Mengapa Perahu Naga Berlomba Setiap Tahun?
- 19 Jun 2026 12:10 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta — Dentuman gendang dan laju perahu naga yang membelah sungai setiap Festival Peh Cun bukan sekadar tontonan budaya. Di balik tradisi yang telah bertahan lebih dari dua milenium itu, tersimpan kisah seorang penyair yang memilih mengakhiri hidupnya demi negeri yang dicintainya.

Festival Perahu Naga atau Duanwu Festival menjadi salah satu perayaan budaya tertua yang masih bertahan hingga saat ini. Perayaan tersebut berlangsung setiap hari kelima bulan kelima dalam kalender lunar Tiongkok dan telah diwariskan selama lebih dari 2.000 tahun.
Banyak orang mengenal festival ini melalui perlombaan perahu naga yang meriah. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa tradisi tersebut berakar dari kisah tragis seorang penyair bernama Qu Yuan yang hidup pada masa Negara-Negara Berperang di Tiongkok kuno.
Qu Yuan merupakan pejabat sekaligus penyair dari Negara Chu sekitar tahun 339–278 sebelum Masehi. Ia dikenal sebagai penasihat setia raja yang berulang kali memperingatkan ancaman dari Negara Qin yang tengah memperluas kekuasaan.
Meski dikenal cerdas dan patriotik, Qu Yuan justru disingkirkan dari istana. Lawan-lawan politiknya menuduhnya berkhianat sehingga ia diasingkan dari pusat pemerintahan.
Dalam masa pengasingan, Qu Yuan menghasilkan sejumlah karya sastra yang kemudian dianggap sebagai mahakarya dalam sejarah sastra Tiongkok. Melalui puisinya, ia menggambarkan kecintaan terhadap tanah air sekaligus kegelisahan melihat negaranya berada di ambang kehancuran.
Puncak tragedi terjadi ketika ibu kota Negara Chu jatuh ke tangan Qin. Mendengar kabar tersebut, Qu Yuan dilanda keputusasaan dan memilih menceburkan diri ke Sungai Miluo pada hari kelima bulan kelima kalender lunar.
Kisah itu kemudian berkembang menjadi legenda yang diwariskan turun-temurun. Masyarakat yang mencintainya berusaha mencari jasad sang penyair menggunakan perahu-perahu di sungai.
Mereka juga melemparkan makanan ke dalam air. Tujuannya agar ikan tidak memakan jasad Qu Yuan yang mereka hormati.
Dari tradisi itulah lahir dua simbol utama Festival Perahu Naga. Perlombaan perahu naga melambangkan pencarian Qu Yuan, sedangkan bakcang atau zongzi menjadi representasi makanan yang dahulu dilemparkan ke sungai.
Laman Britannica yang kami akses pada Jumat, 19 Juni 2026, mencatat Festival Perahu Naga telah berlangsung sedikitnya selama 1.500 tahun. Perayaan tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu dari tiga festival besar masyarakat Tionghoa selain Tahun Baru Imlek dan Festival Pertengahan Musim Gugur.
Meski legenda Qu Yuan paling populer, para sejarawan menilai akar festival kemungkinan lebih tua dibandingkan kisah sang penyair. Festival ini diduga berasal dari ritual agraris masyarakat Tiongkok selatan yang berkaitan dengan penghormatan terhadap dewa naga, kesuburan, dan harapan panen padi yang melimpah.
Dalam perkembangannya, tradisi kuno tersebut berpadu dengan kisah kepahlawanan Qu Yuan. Perpaduan itu membentuk Festival Perahu Naga seperti yang dikenal masyarakat dunia saat ini.
Badan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO mencatat perayaan ini tidak hanya berisi perlombaan perahu naga. Berbagai daerah di Tiongkok juga menggelar upacara penghormatan kepada tokoh lokal, pertunjukan seni rakyat, santap bersama, hingga ritual tolak bala.
UNESCO menyebut festival tersebut memperkuat hubungan keluarga dan menciptakan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Tradisi itu juga mendorong lahirnya identitas budaya yang kuat di tengah masyarakat.
Pengaruh Festival Perahu Naga kemudian menyebar ke berbagai negara. Komunitas Tionghoa di Asia Tenggara, Amerika Utara, hingga Eropa turut merayakannya dengan karakter lokal masing-masing.
Di Indonesia, salah satu perayaan yang paling dikenal adalah Festival Peh Cun di Kota Tangerang, Banten. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tionghoa Benteng yang bermukim di sekitar Sungai Cisadane.
Pemerintah Kota Tangerang mencatat perayaan Peh Cun telah hadir sejak sekitar 1910. Awalnya kegiatan tersebut berlangsung di Kali Besar Batavia sebelum akhirnya dipindahkan ke Sungai Cisadane karena kondisi sungai di Batavia yang semakin dangkal.
Menjelang Festival Peh Cun 2026, masyarakat kembali menggelar berbagai ritual tradisional. Salah satunya tradisi Lepas Ancak yang dilakukan dengan melarung sesajen ke sejumlah titik di Sungai Cisadane sebagai bentuk rasa syukur, permohonan keberkahan, dan penghormatan kepada leluhur.
Tradisi tersebut terlihat dalam foto kantor berita Antara yang memperlihatkan warga menabuh gendang saat mengiringi prosesi Lepas Ancak di Sungai Cisadane, Jumat, 12 Juni 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....