Pesona Baju Kuruang Basiba, Penjaga Marwah Perempuan Minangkabau

  • 13 Jun 2026 22:43 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Eksistensi busana tradisional kerap kali tergerus oleh zaman, namun tidak dengan baju kuruang basiba yang hingga kini tetap kokoh berdiri sebagai simbol kehormatan dan jati diri perempuan Minang. Pakaian legendaris yang longgar dan anggun ini bukan sekadar penutup tubuh biasa, melainkan sebuah mahakarya kultural yang sarat akan nilai teologis dan penghormatan tinggi terhadap perempuan. Kehadirannya di ranah Minangkabau menjadi bukti nyata bagaimana kebudayaan lokal mampu berpadu harmonis dengan nilai-nilai spiritual seiring berjalannya waktu.

"Baju kuruang basiba dirancang dengan potongan longgar, tidak menggunakan ritsleting, memiliki belahan di dada, serta potongan lengan yang lapang agar tidak memperlihatkan lekuk tubuh perempuan sekaligus mempermudah gerakan serta ibadah," ujar Ketua Umum Komunitas Basiba Sumatera Barat (KBS), Ir. Ramayati, S.H. (Bunda Titi), dalam dialog interaktif lintas udara Pro 4 RRI.

Dikutip dari siaran jaringan nasional Pro 4 RRI, Suara Budaya Nusantara, pakaian ikonik ini tercatat sudah eksis sejak abad ke-14 Masehi. Kehadirannya secara historis menandai masuknya pengaruh Islam di Sumatera Barat, sekaligus menggeser tradisi abad ke-13 saat perempuan Minang masih terbiasa melilitkan kain sarung ke dada untuk beraktivitas sehari-hari. Ciri khas utama yang membedakannya dengan baju kurung lain di Nusantara adalah struktur jahitan siba, yaitu empat potong kain serong yang mempertemukan bagian bahu hingga ke bawah baju pada sisi kiri, kanan, depan, dan belakang.

Kini, pakaian yang telah resmi terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh UNESCO ini telah berkembang fungsinya dari pakaian harian menjadi busana wajib dalam berbagai upacara adat besar, seperti acara badatuk. Di tengah gempuran tren busana modern buatan luar negeri yang digandrungi generasi muda, Komunitas Basiba Sumatera Barat terus gencar melebarkan sayapnya ke berbagai daerah demi melestarikan warisan ini.

Melalui penguatan edukasi ke generasi Z, baju kuruang basiba diharapkan dapat terus dicintai layaknya masyarakat Jepang bangga mengenakan Kimono mereka. Langkah pelestarian ini menjadi sangat krusial agar busana adat ini tetap abadi menjadi identitas diri perempuan Minang yang memegang teguh filosofi hidup Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....