Budaya Menghantar Cikal Bakalnya Budaya Gotong Royong
- 03 Jun 2026 09:06 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID.Jakarta: - Tradisi menghantar yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Sunda menjadi salah satu fondasi lahirnya budaya gotong royong yang masih terjaga hingga saat ini. Hal tersebut disampaikan oleh Rahyang Mandalajati Evi Silviadi, Raja Lembaga Adat Kraton Galuh Pakuan, melalui sambungan telepon dalam siaran radio bertajuk Apresiasi Budaya Sunda di 92,8 FM Pro 4 RRI Jakarta, Selasa. 2 Juni 2026, yang dipandu host Grup Apdaun. Menurutnya, budaya menghantar merupakan warisan leluhur yang mengajarkan pentingnya kepedulian sosial dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam pemaparannya, Rahyang Mandalajati menjelaskan bahwa budaya menghantar telah lama dipraktikkan oleh masyarakat Sunda dalam berbagai momentum kehidupan. Ketika ada warga yang mengadakan hajatan, membangun rumah, mengalami musibah, maupun menyelenggarakan kegiatan adat, masyarakat sekitar akan datang membawa bantuan berupa bahan makanan, hasil bumi, tenaga, atau dukungan moral. Kebiasaan tersebut bukan hanya meringankan beban pihak yang dibantu, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarsesama warga sehingga tercipta rasa kekeluargaan yang kuat.
Menurut Raja Lembaga Adat Kraton Galuh Pakuan tersebut, budaya menghantar merupakan bentuk nyata penerapan falsafah Sunda silih asih, silih asah, silih asuh. Melalui tradisi ini, masyarakat diajarkan untuk saling menyayangi, saling mengingatkan, dan saling membimbing dalam kehidupan sehari-hari. Dari kebiasaan sederhana itulah tumbuh semangat gotong royong yang kemudian menjadi karakter kuat masyarakat Sunda bahkan menjadi salah satu nilai luhur bangsa Indonesia. Ia menegaskan bahwa gotong royong tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari budaya-budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Rahyang Mandalajati juga menyoroti tantangan pelestarian budaya menghantar di tengah perkembangan zaman yang semakin modern dan individualistis. Ia mengingatkan bahwa meskipun pola interaksi masyarakat telah berubah, nilai-nilai yang terkandung dalam budaya menghantar tetap relevan untuk diterapkan. Kepedulian terhadap tetangga, kesediaan membantu sesama, serta semangat berbagi dalam berbagai bentuk merupakan manifestasi modern dari tradisi menghantar yang perlu terus ditumbuhkan, terutama di kalangan generasi muda.
Menutup dialog, Rahyang Mandalajati Evi Silviadi mengajak masyarakat untuk terus menjaga dan menghidupkan budaya menghantar sebagai bagian dari identitas budaya Sunda. Menurutnya, pelestarian tradisi ini bukan sekadar mempertahankan kebiasaan leluhur, melainkan juga menjaga nilai kemanusiaan yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat. Melalui budaya menghantar, semangat gotong royong dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi sehingga tetap menjadi perekat persatuan dan kebersamaan di tengah kehidupan bangsa yang majemuk.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....