Rumah Si Pitung Marunda: Menjaga Legenda di Tengah Kepungan Banjir Rob

  • 02 Jun 2026 13:21 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Berdiri kokoh sejak era 1880-an, Rumah Si Pitung di Marunda, Jakarta Utara, bukan sekadar bangunan kayu tua. Ia adalah simbol perlawanan dan saksi bisu sejarah Jakarta yang kini terus berjuang melawan tantangan alam dan dinamika ekonomi masyarakat pesisir.

Pengelola dan pemandu museum Darma Utama menjelaskan transformasi rumah panggung ini dari kediaman pribadi hingga menjadi cagar budaya resmi pada tahun 1972. Rumah ini diyakini pernah menjadi tempat persembunyian Si Pitung, sang jagoan Betawi, saat diburu oleh pemerintah kolonial Belanda.

Benteng Terakhir Melawan Banjir Rob

Sebagai situs yang berada di wilayah pesisir, Rumah Si Pitung menghadapi ancaman nyata dari penurunan muka tanah dan banjir rob. Untuk menjaga kelestariannya, pengelola melakukan perombakan besar pada tahun 2009 hingga 2010 dengan meninggikan teras dan bangunan utama.

"Aslinya bangunan ini panggungnya langsung menyentuh tanah. Baru sekitar tahun 2009-2010 dinaikkan sebagai antisipasi rob," ujar Darma kepada RRI Jakarta, Senin 1 Juni 2026.

Meskipun telah ditinggikan, banjir besar masih terkadang masuk ke area museum, seperti yang terjadi pada Desember tahun lalu dengan ketinggian air mencapai mata kaki.

Dilema Harga Tiket dan Penurunan Pengunjung

Sejak akhir tahun 2024, Rumah Si Pitung menerapkan penyesuaian harga tiket masuk. Jika sebelumnya tiket dibanderol hanya Rp5.000, kini pengunjung dikenakan biaya Rp10.000 pada hari kerja dan Rp15.000 pada akhir pekan.

Kenaikan ini rupanya berdampak signifikan pada jumlah kunjungan. Pemandu museum mencatat adanya penurunan antusiasme masyarakat, terutama dari kalangan keluarga. "Sangat berasa pengaruhnya. Kalau dulu bawa tiga atau empat anak masih murah, sekarang kerasa juga bagi warga," ungkapnya.

Padahal, secara fasilitas, pengelola telah menambahkan berbagai nilai tambah untuk menarik minat generasi muda. Kini, pengunjung tidak hanya melihat arsitektur rumah, tetapi juga bisa menikmati pemutaran film sejarah, kegiatan menggambar, hingga belajar alat musik tradisional secara gratis bagi anak-anak.

Harapan di Masa Depan

Meskipun suasana museum kini cenderung lebih sepi dibandingkan masa pasca-pandemi Covid-19, pengelola tetap optimis. Harapan besar digantungkan agar ada evaluasi terkait kebijakan harga tiket agar situs bersejarah ini kembali ramai dikunjungi sebagai sarana edukasi.

Bagi warga sekitar dan pecinta sejarah, Rumah Si Pitung tetap menjadi destinasi favorit untuk bernostalgia, menikmati angin sepoi-sepoi pesisir, sambil mengenang jasa para pejuang masa lalu yang telah membentuk identitas Jakarta.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....