Menyalakan Nilai Pancasila dalam Keheningan Malam Purnama

  • 01 Jun 2026 23:36 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Pancasila sejatinya lahir dari tata nilai dan laku hidup masyarakat Nusantara
  • Ruang hening untuk mengenang dan meneguhkan kembali nilai-nilai yang menjadi fondasi bangsa
  • Meditasi pada malam purnama merupakan sarana untuk meneguhkan kejernihan batin dan kesadaran diri

RRI.CO.ID Jakarta - Malam kelahiran Pancasila diperingati dengan cara yang berbeda melalui kegiatan Malam Purnama Tirakatan Pancasila (Blue Moon Meditation) yang diselenggarakan oleh Urban Spiritual Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Direktorat Kebudayaan UI, Komoenitas Makara, ILUNI UI FIB, dan Perempuan Bersih Narkoba. Kegiatan reflektif yang berlangsung di bawah cahaya bulan purnama langka ini menjadi ruang kontemplasi untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut, antara lain Turita Indah Setyani, Ngatawi Al Zastrouw, Untung Yuwono, Bondan Kanumoyoso, dan Visna Vulovik. Mereka mengajak peserta untuk memaknai Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai pedoman moral dan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Dalam pemaparannya, Turita Indah Setyani menjelaskan bahwa meditasi pada malam purnama merupakan sarana untuk meneguhkan kejernihan batin dan kesadaran diri. Menurutnya, suasana hening di bawah cahaya Blue Moon membantu peserta merasakan kembali nilai-nilai welas asih, persatuan, dan kemanusiaan yang terkandung dalam Pancasila. Kesadaran tersebut diharapkan mampu menuntun setiap individu untuk menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil.

(Turita Indah Setyani menjelaskan bahwa meditasi pada malam purnama merupakan sarana untuk meneguhkan kejernihan batin dan kesadaran diri. Menurutnya, suasana hening di bawah cahaya Blue Moon membantu peserta merasakan kembali nilai-nilai welas asih, persatuan, dan kemanusiaan yang terkandung dalam Pancasila. Foto Humas Komoenitas Makara)

Sementara itu, Ngatawi Al Zastrouw menegaskan bahwa Pancasila sejatinya lahir dari tata nilai dan laku hidup masyarakat Nusantara. Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menjadikan Pancasila sebagai praktik nyata, bukan sekadar slogan atau retorika. Senada dengan itu, Untung Yuwono menyampaikan bahwa refleksi dan tirakatan bukanlah bentuk menjauh dari realitas sosial, melainkan cara untuk membangun kebijaksanaan, toleransi, dan empati yang lebih mendalam. Ia juga menekankan pentingnya kampus sebagai ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, kebudayaan, spiritualitas, dan kemanusiaan.

(Foto: Humas Komoenitas Makara)

Sejarawan Bondan Kanumoyoso menyebut Malam Tirakatan Pancasila sebagai ruang hening untuk mengenang dan meneguhkan kembali nilai-nilai yang menjadi fondasi bangsa. Dukungan serupa disampaikan Ketua ILUNI UI FIB Visna Vulovik yang menilai bahwa spiritualitas, kebudayaan, dan nasionalisme merupakan fondasi penting dalam menjaga kemanusiaan kolektif. Acara ini turut dihadiri berbagai tokoh akademisi, budayawan, pemimpin komunitas, serta pemerhati sosial yang bersama-sama menyalakan semangat kedamaian, toleransi, dan gotong royong sebagai refleksi nyata dari nilai-nilai Pancasila bagi Indonesia yang adil dan beradab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....