Eksistensi Keris Palembang dari Senjata Tradisional Menjadi Karya Seni

  • 28 Mei 2026 19:46 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Seni tempa dan kelengkapan senjata tradisional merupakan bukti nyata tingginya peradaban leluhur, salah satunya tercermin di Sumatra Selatan.

Pada Selasa, 26 Mei 2026, stasiun radio RRI Palembang dan RRI Jakarta menggelar siaran berjaringan nasional untuk mengupas tuntas eksistensi Keris Palembang sebagai karya seni Nusantara yang adiluhung. Acara dialog interaktif yang dipandu oleh duet host Ahmad Jhoni Arla (RRI Palembang) dan Mariana Suhendi (RRI Jakarta) ini bertujuan mengedukasi masyarakat luas sekaligus mempertegas bahwa di era modern, fungsi keris telah bergeser dari senjata fisik menjadi identitas budaya dan benda seni rupa tingkat tinggi.

Hadir sebagai narasumber utama dalam wawancara ini adalah Heri Suranto, atau yang akrab disapa Cek Eri. Beliau merupakan seorang meranggi yaitu profesi langka yang secara khusus menekuni pembuatan hulu (gagang) dan warangka (sarung) keris khas Palembang. Di tengah kelangkaan pengrajin ukir tradisional saat ini, Cek Eri secara konsisten mendedikasikan keahliannya di bengkel kerja untuk melestarikan ornamen keris, bahkan beliau kerap dipercaya oleh museum provinsi untuk merenovasi dan melengkapi bilah-bilah keris kuno temuan sejarah yang sudah kehilangan sarung maupun gagangnya.

Dalam dialog tersebut, Cek Eri menjelaskan bahwa keunikan Keris Palembang terletak pada anatominya yang merupakan hasil akulturasi dari tiga budaya besar, yaitu Jawa, Cirebon, dan Melayu. Pengaruh Jawa sangat kuat pada pakem dan teknik penempaan bilah (dapur), di mana keris Palembang era Kesultanan akhir mayoritas berbentuk lurus tegak 80 hingga 90 derajat (berbeda dengan keris Jawa yang condong miring). Sementara itu, pengaruh Cirebon melekat pada bentuk cincin keris yang menyerupai gunungan, serta bentuk sampir (sarung) perahu yang lengkungannya mengarah ke dalam. Unsur Melayu sendiri sangat kental pada lekukan gagangnya yang memiliki filosofis mendalam.

Secara anatomi hulu, Cek Eri memaparkan bahwa gagang keris Palembang memiliki lenggo atau lekukan khas yang jika dilihat dari belakang menyerupai posisi orang sedang duduk tahiyat, dengan posisi hulu yang selalu menghadap lurus ke depan. Di Palembang, terdapat empat jenis hulu secara garis besar, di antaranya adalah "Putri Malu" yang menyerupai kepala wanita dan dahulu minimal dipegang oleh pejabat setingkat pesirah (lurah), serta hulu "Ludai" atau "Elang Laut" berbentuk kepala burung yang menjadi simbol pejabat khusus Kesultanan. Bahan bakunya pun menggunakan kayu langka berkualitas tinggi seperti tembesu, kemuning, dan unglen, bahkan pada masa lampau ada yang menggunakan gading berukir halus.

Menjawab pertanyaan interaktif dari pendengar di Ternate dan Jakarta, Cek Eri menegaskan bahwa Keris Palembang saat ini bebas dimiliki oleh siapa saja sebagai simbol kebanggaan budaya tanpa perlu adanya ritual atau mistis khusus, melainkan cukup dirawat dengan baik. Beliau juga menambahkan bahwa pembuatan bilah keris lama sangat bernilai tinggi karena melibatkan 800 hingga 2.000 lipatan besi, baja, nikel, bahkan meteor yang membutuhkan waktu hingga satu tahun di bawah pembiayaan Sultan. Melalui siaran berjaringan ini, diharapkan sinergi pelestarian seni meranggi terus terjaga agar mahakarya fisik dan spiritual dari Bumi Sriwijaya ini tidak hilang ditelan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....