Spirit Kartini dan Kebangkitan Perempuan di Era Digital

  • 13 Mei 2026 23:16 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Menghidupkan Spirit Kartini dalam Pendidikan dan Kebangsaan Kaum Perempuan di Era Digital
  • Nilai-nilai perjuangan Kartini kembali dihidupkan dalam konteks kekinian, khususnya di era digital

RRI.CO.ID, Jakarta - Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia menggelar Majelis Nyala Purnama edisi ke-12 di selasar Gedung Makara Art Center UI, Depok, Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan yang menandai satu tahun penyelenggaraan ini mengusung tema “Menghidupkan Spirit Kartini dalam Pendidikan dan Kebangsaan Kaum Perempuan di Era Digital”. Acara tersebut menjadi ruang budaya yang menghadirkan pertunjukan musik, tari, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, orasi budaya, hingga meditasi sebagai bentuk perayaan keberagaman dan pelestarian nilai budaya Indonesia.

Sejumlah tokoh nasional, akademisi, budayawan, dan seniman hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Direktur Kebudayaan UI Ngatawi Al Zastrouw, serta sejumlah narasumber dan penampil lainnya. Kehadiran mereka memperkuat pesan bahwa perjuangan Kartini tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman modern dan perkembangan teknologi digital.

Dalam sambutannya, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menegaskan bahwa Kartini merupakan simbol keberanian perempuan dalam memperjuangkan pendidikan dan kemanusiaan. “Kartini adalah sosok pemberani, berani berpikir kritis, berani bersuara, dan berani memperjuangkan kemanusiaan di masa ketika akses pendidikan masih sangat terbatas,” ujarnya. Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyebut Kartini memiliki kemampuan menerjemahkan nilai-nilai filosofi Jawa ke dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Menurutnya, perempuan memiliki posisi penting sebagai pusat lahirnya tatanan dan peradaban manusia.

Sejumlah tokoh nasional, akademisi, budayawan, dan seniman hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Direktur Kebudayaan UI Ngatawi Al Zastrouw, serta sejumlah narasumber dan penampil lainnya. Kehadiran mereka memperkuat pesan bahwa perjuangan Kartini tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman modern dan perkembangan teknologi digital. (Foto: Pus Info Direktorat Kebudayaan UI dan Humas Komoenitas Makara)

Pandangan serupa juga disampaikan Wakil Kepala BPIP Rima Agristina yang menilai perjuangan Kartini dalam pendidikan perempuan telah membawa manfaat besar bagi perempuan masa kini. Direktur Kebudayaan UI Ngatawi Al-Zastrouw menambahkan bahwa Kartini bukan hanya tokoh emansipasi, melainkan juga pejuang pendidikan dan kebangsaan yang mampu membangun jaringan perjuangan melalui hubungan dengan bangsa Barat. “Kartini menggunakan kedekatan dengan bangsa Barat sebagai jalan negosiasi dalam perjuangan kebangsaan,” katanya.

Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan menegaskan bahwa spirit Kartini di era digital harus diwujudkan melalui penguasaan teknologi dan literasi digital oleh perempuan Indonesia. Menurutnya, kreativitas dan kecerdasan digital menjadi kunci mempersempit kesenjangan gender dan memperkuat peran perempuan dalam pembangunan bangsa. Sementara itu, Pamomong Urban Spiritual Indonesia Turita Indah Setyani mengingatkan bahwa pemikiran Kartini lahir dari refleksi spiritual yang mendalam. Ia menyebut ungkapan “Habis gelap terbitlah terang” menjadi simbol pencerahan yang hingga kini terus menginspirasi perjalanan perempuan Indonesia menuju masa depan yang lebih inklusif dan berkeadilan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....