AI Bisa Susun Pantun, tapi Tak Bisa Gantikan Rasa

  • 12 Mei 2026 20:15 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Penggunaan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence dalam menyusun pantun dinilai belum mampu menggantikan rasa, pengalaman, dan makna yang lahir dari manusia. Pandangan tersebut disampaikan dalam siaran radio “Suara Budaya Nusantara” yang disiarkan bersama antara Programa 4 RRI Jakarta dan RRI Pontianak pada Senin, 11 Mei 2026.

Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat, Prof. Dr. Chairil Effendy, mengatakan pantun bukan sekadar permainan kata atau bunyi dengan rima a-b-a-b yang indah didengar. “Pantun merupakan penanda identitas yang sarat akan nilai moral, etika, dan agama yang menjadi pedoman hidup masyarakat,” ujar Prof. Chairil.

Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat, Prof. Dr. Chairil Effendy berpendapat pentingnya menjaga makna pantun di tengah perkembangan teknologi digital. Penggunaan AI dinilai belum mampu menggantikan nilai emosional dalam sastra lisan Melayu. (Foto: e flayer acara siaran)

Dalam diskusi itu, Prof. Chairil mengakui teknologi AI mampu membantu menyusun rima. Namun, ia menilai hasil karya mesin tetap berbeda dengan pantun yang lahir dari pengalaman emosional manusia.

“Meski AI mampu menyusun rima secara teknis, rasa dan pesan orisinal yang keluar dari hati sang pencipta tetap tidak bisa digantikan mesin,” ucapnya.

Menurut Prof. Chairil, pantun selama ini hidup dalam berbagai tradisi masyarakat di Kalimantan Barat. Pantun digunakan dalam prosesi lamaran, pernikahan, hingga kegiatan resmi pemerintahan sebagai bagian dari identitas budaya lokal.

"Eksistensi pantun membuktikan bahwa nilai-nilai lokal masih memiliki tempat yang sangat kuat dalam struktur sosial kita saat ini," kata Prof. Chairil menegaskan keberlanjutan tradisi tersebut.

Meskipun menghadapi gempuran budaya populer, Prof. Chairil merasa optimistis bahwa teknologi digital justru membuka peluang inovasi bagi generasi muda. Di Pontianak sendiri, tren pelestarian mulai berkembang melalui variasi seni kreatif seperti Tundang atau Pantun Berdendang. Selain itu, muncul pula Tundang Sari yang menggabungkan unsur pantun dengan seni tarian, menunjukkan bahwa tradisi lisan ini mampu bersikap adaptif.

Pelestarian pantun juga diperkuat melalui pendidikan formal di sejumlah daerah Kalimantan Barat. Saat ini bahan ajar bahasa Melayu tengah dipersiapkan untuk tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama di wilayah Sambas dan sekitarnya.

Pemerintah daerah bersama pegiat budaya juga mengadakan Bimbingan Teknis bagi para guru di Singkawang dan Bengkayang. Langkah itu dilakukan agar pembelajaran pantun pengajaran pantun dapat dilakukan secara efektif di lingkungan sekolah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....