Racik Aksara, Racik Rasa: Menemukan Rahasia Sehat dalam Manuskrip Jawa Kuno

  • 08 Mei 2026 19:11 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di balik deretan aksara Jawa yang meliuk indah dalam naskah kuno, tersimpan rahasia kesehatan yang melampaui zaman. Hal inilah yang dibedah dalam dialog interaktif "Racik Aksara, Racik Rasa: Menggali Jamu dari Manuskrip Jawa" yang disiarkan melalui jejaring Suara Budaya Nusantara Pro 4 Network RRI, Jumat (8/5/2026).

Dialog yang dipandu oleh duo host Jo Adithya (Pro 4 Jakarta) dan Michelle Sabda (Pro 4 Semarang) ini menghadirkan Didik Supriadi, S.Pd., M.Pd., Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UNNES. Diskusi ini mengajak pendengar menyelami lebih dalam bahwa jamu bukan sekadar minuman pahit, melainkan sebuah simfoni peradaban.

Bukan Sekadar Herbal, Tapi Warisan Relief

Didik menjelaskan bahwa identitas jamu telah terukir abadi sejak abad ke-8 pada relief Candi Borobudur. Sejarah mencatat betapa intimnya masyarakat Jawa kuno berinteraksi dengan alam untuk meramu obat. Memasuki medio 1800-an, kearifan lokal ini bertransformasi dari tradisi lisan menjadi literasi formal dalam bentuk manuskrip atau serat.

"Aksara Jawa dalam naskah kuno adalah jembatan waktu. Ia membawa pengetahuan masa lalu untuk menjawab tantangan kesehatan masa kini," ungkap Didik dalam paparannya.

Filosofi di Balik Kata "Jamu"

Berdasarkan riset terhadap 19 naskah otentik, termasuk Serat Centhini, terungkap fakta etimologis yang unik. Kata jamu berasal dari "Jampi" atau "Jammu" yang berarti "sajian." Makna ini menggeser persepsi jamu dari sekadar obat menjadi sebuah bentuk penghormatan.

Jamu dipandang sebagai seni menyajikan keseimbangan antara manusia dan alam. Ia tidak hanya hadir untuk menyembuhkan raga yang sakit, namun juga berfungsi sebagai doa (jampi kasih) dan sajian etika yang menenangkan jiwa.

Khasiat Nyata dari Lembar Serat Centhini

Menariknya, kecintaan Didik terhadap manuskrip ini berawal dari pembuktian empiris. Masalah rambut rontok yang sempat ia alami justru menemukan solusi di lembaran Serat Centhini jilid 3 dan 6. Ramuan minyak kelapa, kemiri, dan jahe terbukti lebih ampuh dibanding pengobatan modern yang pernah ia coba.

Kini, ia mendedikasikan diri untuk mendigitalisasi ratusan resep kuno, seperti dalam naskah Pitedah bab Pamularasaning Yang Sakit yang menyimpan 728 racikan rahasia. Ia menekankan bahwa dalam meracik jamu, ketelitian dan karakter sang peracik memegang peranan krusial dalam menciptakan khasiat yang sempurna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....