Banten Lama: Saksi Bisu Kejayaan dan Simpul Perdagangan di Nusantara
- 05 Mei 2026 13:24 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Hamparan bata merah dan sisa-sisa reruntuhan di pesisir utara Jawa seolah berbisik, membawa memori kolektif kita kembali ke abad ke-16 saat Banten menjadi magnet perdagangan dunia yang luar biasa. Di balik tembok Keraton Surosowan yang megah dan siluet menara masjid yang mirip mercusuar, tersimpan narasi besar tentang sebuah kota metropolitan kuno yang menjadi titik temu peradaban Arab, India, Tiongkok, hingga Eropa dalam harmoni multikultural yang sangat kental.
"Banten Lama bukan hanya menyimpan berbagai kumpulan bangunan bersejarah, tetapi juga ruang hidup yang sarat makna religius dan budaya, di mana setiap tahunnya ribuan peziarah datang untuk berdoa," ujar Penggiat Sejarah Indonesia, Purnomo Dian dalam akun Instagram @Purnomo.dian06 dikutip pada Selasa, 05 Mei 2026.
Dalam akunya itu juga diterangkan, bahwa kawasan ini merupakan pusat kekuasaan Kesultanan Banten yang pernah eksis hingga awal abad ke-19. Jantung kawasan ini adalah Masjid Agung Banten, pusat spiritual yang dibangun Sultan Maulana Hasanuddin dengan memadukan arsitektur berbagai bangsa. "Keunikan menara setinggi 24 meter ini menyerupai mercusuar, mencerminkan identitas Banten sebagai kota pelabuhan utama," tambah Purnomo Dian.

Tak jauh dari masjid, berdiri kokoh reruntuhan Keraton Surosowan yang menjadi lambang kebesaran serta pusat pemerintahan tempat Sultan bertemu para diplomat dunia. Di sisi lain, terdapat pula Keraton Kaibon yang dibangun Sultan Syarifuddin dengan nuansa lebih privat untuk ibundanya, meski sayangnya keraton ini dibongkar oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1832 guna membangun pemukiman pejabat di Kota Serang.
Jejak kolonialisme juga terlihat jelas pada Benteng Speelwijk yang dibangun VOC untuk mengawasi gerak-gerik kesultanan setelah adanya konflik internal antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Purnomo Dian menjelaskan, "Pembangunan benteng yang sangat dekat dengan keraton ini bertujuan untuk mengendalikan kesultanan agar tetap tunduk kepada kepentingan ekonomi Belanda." Di sekitar benteng ini, masih dapat dijumpai kanal pertahanan serta kompleks pemakaman kerkhoff.

Bukti nyata toleransi dan kosmopolitanisme Banten Lama terlihat dari keberadaan Vihara Avalokitesvara yang menandakan keberadaan masyarakat Tionghoa Peranakan di masa lalu. Hal ini diperkuat dengan adanya Masjid Pecinan Tinggi yang masih menyisakan menara dan mihrab, di mana tepat di sampingnya ditemukan nisan Tionghoa (bongpay) sebagai simbol harmoni antarumat beragama yang sangat kuat.
Kini, pemerintah terus berupaya mengembangkan Banten Lama sebagai destinasi wisata sejarah dan religi unggulan tanpa menghilangkan atmosfer masa lalunya yang magis. Purnomo Dian menekankan, "Pelestarian kawasan ini adalah kunci bagi generasi muda untuk memahami betapa kosmopolitannya akar sejarah bangsa kita." Upaya ini sangat penting agar masyarakat tetap bisa merasakan denyut kehidupan pusat perekonomian penting yang pernah berjaya di Nusantara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....