Orang Batak Menang di Era AI
- 04 Mei 2026 10:52 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID.Jakarta - Di tengah gelombang revolusi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kian masif, masyarakat Batak dinilai memiliki peluang besar untuk tampil sebagai pemenang di era digital ini. Hal tersebut disampaikan oleh Dra. Arta Peto Sinamo, Dip.Ed., M.A in Ed., anggota Dewan Penasehat BATAK CENTER, saat hadir langsung di Studio Pro 4 RRI Jakarta dalam program Apresiasi Budaya Batak, Senin, 4 Mei 2026.
Dalam perbincangan yang dipandu host Dermawan Ismail, Arta menekankan bahwa karakter budaya Batak yang kuat menjadi modal utama menghadapi perubahan zaman. Menurut Arta, orang Batak dikenal memiliki etos kerja tinggi, keberanian, serta semangat belajar yang tidak mudah padam. Nilai-nilai ini, kata dia, sangat relevan dengan tuntutan era AI yang membutuhkan adaptasi cepat, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.
“Orang Batak itu terbiasa berjuang, tidak takut bersaing, dan punya daya tahan mental yang kuat. Ini adalah karakter penting untuk menaklukkan tantangan di era teknologi,” ujarnya di hadapan pendengar RRI.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa filosofi hidup masyarakat Batak seperti “hamoraon, hagabeon, dan hasangapon” tidak hanya dimaknai secara tradisional, tetapi kini perlu ditransformasikan dalam konteks modern. Hamoraon (kemakmuran) bisa diwujudkan melalui penguasaan teknologi dan ekonomi digital, hagabeon (keturunan) diperluas menjadi keberlanjutan kualitas generasi melalui pendidikan berbasis teknologi, sementara hasangapon (kehormatan) dapat diraih melalui kontribusi nyata di bidang inovasi dan ilmu pengetahuan.
Arta juga menyoroti pentingnya pendidikan dan literasi digital sebagai kunci utama agar generasi muda Batak tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta teknologi AI. Ia mendorong adanya kolaborasi antara komunitas, lembaga pendidikan, dan organisasi seperti BATAK CENTER untuk membangun ekosistem yang mendukung lahirnya talenta-talenta unggul. “Kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Anak-anak Batak harus jadi pemain utama, bahkan pencipta dalam dunia AI,” tegasnya.
Menutup perbincangan, Arta Peto Sinamo optimistis bahwa dengan memadukan nilai budaya yang kokoh dan penguasaan teknologi, masyarakat Batak mampu bersaing di kancah global. Ia berharap program seperti Apresiasi Budaya Batak di RRI dapat terus menjadi ruang inspirasi dan edukasi bagi publik. “Identitas budaya bukan untuk ditinggalkan, tetapi menjadi fondasi untuk melangkah lebih jauh. Di era AI, orang Batak harus tetap jadi pemenang,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....