Puade: Simbol Cinta, Identitas, dan Makna Budaya
- 30 Apr 2026 09:58 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta : Puade atau pelaminan adat Gorontalo menjadi simbol penting dalam prosesi pernikahan yang sarat makna. Hal ini dibahas dalam wawancara yang dipandu oleh Anja Yayan (Host RRI Gorontalo) dan Nova Calysta (Host RRI Jakarta) bersama narasumber H. Ishak Bumolo, seorang pemangku adat.
Dalam perbincangan tersebut, dijelaskan bahwa puade bukan sekadar dekorasi, melainkan representasi nilai-nilai budaya, cinta, dan tanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga. Tradisi ini masih dilestarikan oleh masyarakat Gorontalo sebagai bagian dari identitas budaya yang kuat.
Menurut H. Ishak Bumolo, Puade digunakan dalam upacara pernikahan adat Gorontalo sebagai tempat duduk pengantin yang disebut “raja sehari.” Pengantin tampil dengan busana adat yang berbeda dari para tamu sebagai simbol penghormatan dan kedudukan mereka dalam acara tersebut.
Ia menjelaskan, “Pengantin itu disebut raja sehari karena mereka menjadi pusat perhatian dan memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam rumah tangga yang baru dibentuk.”
Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua individu, tetapi juga awal dari tanggung jawab sosial dan keluarga.
Lebih lanjut, ornamen dalam puade seperti jaramba, pakadanga, dan tila bataila memiliki makna filosofis yang dalam. Susunan dan posisi ornamen bahkan dapat berbeda tergantung wilayah pelaksanaan, seperti Gorontalo atau Limboto.
Selain itu, bentuk sudut pada ornamen menunjukkan status sosial keluarga pengantin, mulai dari empat sudut untuk masyarakat umum hingga delapan sudut yang khusus bagi pejabat atau tokoh adat.
“Tidak semua orang bisa menggunakan ornamen delapan sudut, karena itu melambangkan kedudukan tertentu dalam struktur adat,” ujar H. Ishak Bumolo.
Dari segi simbolik, berbagai hiasan dalam puade juga mengandung pesan kehidupan. Misalnya, bentuk durian melambangkan tantangan hidup yang harus dihadapi dengan bijaksana, bintang emas sebagai simbol ketuhanan, dan ayam jantan sebagai lambang keberanian serta tanggung jawab.
Selain itu, terdapat pahangga atau gula aren yang melambangkan harapan akan kehidupan rumah tangga yang manis dan harmonis. Semua elemen ini menunjukkan bahwa puade bukan hanya estetika, tetapi sarat nilai moral dan filosofi hidup.
Dengan demikian, puade sebagai pelaminan adat Gorontalo mencerminkan identitas budaya yang kaya dan penuh makna. Tradisi ini menjawab unsur 5W+1H: apa (puade sebagai pelaminan adat), siapa (pengantin, tokoh adat, dan masyarakat), kapan (dalam prosesi pernikahan), di mana (di Gorontalo dan wilayah adatnya), mengapa (sebagai simbol cinta, tanggung jawab, dan status sosial), serta bagaimana (melalui ornamen dan tata susunan yang penuh filosofi).
Puade menjadi bukti bahwa budaya lokal tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mendalam dalam nilai kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....