Apresiasi Budaya Sunda, Usung Tema "Galindeng Paku Sarakan Miwanoh Tembang Sunda"
- 22 Apr 2026 16:45 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Apresiasi Budaya Sunda, di Pro 4 RRI Jakarta kembali hadir dengan mengusung tema “Galindeng Paku Sarakan Miwanoh Tembang Sunda” pada Selasa, 21 April 2026.
Acara yang dipandu oleh host Erlin Marlina dan H. Ahmad Hidayat ini menghadirkan dua narasumber yakni Kang Yusuf Mulyana, serta Kang Tatang Lesmana, S.Sn, yang lebih dikenal sebagai praktisi seni Sunda.
Materi perbincangan yang berlangsung hangat, sesekali berpadu dengan sajian musik tradisional yang memikat dari grup Kecapi Suling komunitas Apdaun tampil begitu baik semakin menambah kehangatan acara.
Dalam pemaparannya, Kang Yusuf Mulyana menekankan bahwa Galindeng Paku Sarakan bukan sekadar istilah, melainkan representasi nilai filosofis dalam tembang Sunda yang mengandung tuntunan hidup. Ia menjelaskan bahwa tembang Sunda memiliki kekuatan sebagai media refleksi batin, yang mampu membangun kehalusan rasa serta memperkuat identitas budaya masyarakat Sunda.
“Melalui tembang, kita diajak miwanoh mengenal diri, lingkungan, dan nilai nilai kehidupan yang diwariskan leluhur,” ungkapnya dengan penuh penekanan.
Sementara itu, Kang Tatang Lesmana, juga menyoroti pentingnya pelestarian tembang Sunda di tengah arus modernisasi. Ia menyebut bahwa generasi muda saat ini perlu diberikan ruang dan pendekatan yang relevan agar mampu mencintai warisan budaya sendiri.
Menurutnya, inovasi dalam penyajian tanpa meninggalkan pakem menjadi kunci agar tembang Sunda tetap hidup dan berkembang. “Tradisi tidak boleh kaku, tapi juga tidak boleh kehilangan ruhnya,” jelas Tatang, menegaskan keseimbangan antara pelestarian dan adaptasi.
Diskusi semakin menarik dengan kehadiran H. Ahmad Hidayat yang turut memberikan perspektif sebagai pengajar dan praktisi seni. Ia menilai bahwa edukasi berbasis budaya seperti tembang Sunda harus diperkuat di lingkungan pendidikan formal maupun nonformal. Dengan pendekatan yang komunikatif dan kontekstual, tembang Sunda dapat menjadi sarana pembentukan karakter sekaligus media pembelajaran estetika yang mendalam. Hal ini sejalan dengan semangat miwanoh yang diangkat dalam tema acara.
Tidak hanya berhenti pada diskusi, penampilan live kecapi suling dari komunitas Apdaun menjadi penutup yang memukau. Alunan kecapi yang lembut berpadu dengan tiupan suling yang syahdu menghadirkan suasana magis, seakan membawa pendengar menyelami kedalaman rasa tembang Sunda itu sendiri. Sajian ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa Galindeng Paku Sarakan bukan hanya konsep, tetapi juga pengalaman estetis yang hidup dan terus berdenyut di tengah masyarakat Sunda hingga hari ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....