Warisan Pejuang Dalam Darah Perempuan Batak

  • 20 Apr 2026 21:45 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Suasana hangat dan sarat makna terasa di studio Pro 4 RRI Jakarta pada Senin, 20 April 2026, ketika acara Apresiasi Budaya Batak menghadirkan sosok inspiratif Tiomora Ester Maria Sitanggang, S.T., M.M., Ketua Departemen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Batak Center. Bersama host Dermawan Ismail, Tiomora memaparkan pandangannya tentang peran perempuan Batak masa kini dalam melanjutkan semangat juang yang diwariskan para leluhur. Ia menyebut, darah pejuang yang mengalir dalam diri perempuan Batak bukan sekadar metafora, melainkan kenyataan historis dan budaya yang telah membentuk karakter pantang menyerah mereka.

Dalam dialog yang mengalir penuh semangat, Tiomora menegaskan bahwa perempuan Batak sejak dulu bukan hanya pelengkap dalam struktur sosial, tetapi juga penentu arah kehidupan keluarga dan komunitasnya. “Perempuan Batak itu dibesarkan dengan nilai hamoraon, hagabeon, dan hasangapon kekayaan, keturunan, dan kehormatan namun lebih dari itu, kami mewarisi keberanian untuk berdiri tegak bahkan di tengah badai,” ujarnya. Menurutnya, nilai-nilai itu kini relevan kembali di tengah tantangan modern seperti kesenjangan gender, kekerasan terhadap perempuan, dan minimnya representasi perempuan dalam ruang publik.

Tiomora juga menyoroti pentingnya pendidikan dan kepercayaan diri sebagai kunci untuk melanjutkan warisan perjuangan tersebut. Ia memandang peran organisasi seperti Batak Center sebagai wadah strategis untuk memperkuat kapasitas perempuan dari berbagai sektor baik sosial, ekonomi, maupun politik. “Kita tidak hanya berbicara tentang melestarikan budaya Batak, tapi juga memastikan perempuan Batak mampu tampil memimpin dengan integritas dan kebijaksanaan,” tegasnya. Pandangan itu disambut positif oleh pendengar yang ikut berinteraksi secara langsung melalui siaran.

Lebih jauh, Tiomora menyinggung peran perempuan Batak dalam menghidupkan nilai gotong royong dan solidaritas di tengah dunia modern yang semakin individualistis. Ia menyebut bahwa semangat dalihan na tolu tiga pilar kekerabatan Batak harus tetap menjadi dasar hubungan sosial, terutama dalam membangun jejaring antarperempuan. Dengan menguatkan sesama, kata Tiomora, perempuan Batak dapat menjadi motor perubahan di tanah air maupun di ranah global. “Semangat juang itu kini berubah bentuk bukan lagi mengangkat senjata, tetapi mengangkat sesama,” katanya penuh keyakinan.

Acara Apresiasi Budaya Batak malam itu ditutup dengan refleksi budaya dan musik tradisional yang menggambarkan kekayaan identitas Batak dalam harmoni masa kini. Melalui percakapan sarat makna antara Dermawan Ismail dan Tiomora Ester Maria Sitanggang, publik diajak melihat kembali bahwa warisan perjuangan bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan denyut kehidupan yang terus bergetar dalam darah perempuan Batak masa kini kuat, cerdas, dan berjiwa pemimpin.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....