Ngeuyeuk Seureuh: Bukan Sekadar Tradisi, tapi Bekal Hidup Rumah Tangga
- 15 Apr 2026 08:32 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keragaman budaya terbesar di dunia. Data Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial atau LP3ES mencatat terdapat 512 bahasa daerah yang dipertuturkan oleh berbagai manusia yang hidup di dalamnya. Salah satu suku bangsa yang tetap melestarikan bahasa dan budayanya adalah suku bangsa Sunda yang termasuk ke dalam suku bangsa mayoritas kedua setelah Jawa di Indonesia.
Masyarakat Sunda yang mendiami wilayah Jawa Barat dan sekitarnya memiliki kekayaan tradisi yang masih terjaga hingga kini. Berbagai upacara adat seperti Seren Taun, Ngaruwat Bumi, hingga tradisi Ramadan seperti Munggahan dan Nganteuran menjadi bukti kuat bagaimana budaya diwariskan lintas generasi.
Tradisi tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan sosial. Dalam praktiknya, budaya Sunda memperlihatkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta melalui simbol-simbol adat yang dijalankan secara konsisten.
Dalam konteks pernikahan, masyarakat Sunda memiliki rangkaian prosesi yang kompleks dan sarat makna. Salah satu ritual penting dalam tahap pra-nikah adalah Ngeuyeuk Seureuh, yang berfungsi sebagai media penyampaian nasihat kehidupan kepada calon pengantin.
Tradisi ini kembali diangkat dalam program siaran radio bertajuk Apresiasi Budaya Sunda di 92,8 FM Pro 4 RRI Jakarta pada Selasa, 14 April 2026. Acara ini dipandu oleh Kang Atep Gunawan bersama Nining dan Teh Tini
Pemerhati budaya Sunda, Teh Sri Wilarsih, yang menjadi narasumber dalam siaran ini menegaskan bahwa Ngeuyeuk Seureuh bukan sekadar prosesi adat. “Tradisi ini mengandung doa dan harapan agar rumah tangga yang dibangun harmonis dan langgeng,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan daun sirih dalam prosesi tersebut melambangkan kesucian, keharmonisan, serta ikatan yang kuat antara pasangan. Selain itu, setiap tahapan ritual juga mengajarkan nilai tanggung jawab, kesetiaan, dan saling menghormati dalam kehidupan rumah tangga.
Lebih lanjut, Teh Sri menekankan pentingnya pelestarian tradisi di tengah perubahan zaman. “Di sinilah esensi budaya kita hidup, bukan hanya dilihat, tapi dirasakan dan dijalankan,” ucapnya, menegaskan bahwa tradisi tetap relevan sebagai pedoman hidup generasi muda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....