Jejak Sejarah Kebaya Encim di Nusantara
- 08 Apr 2026 13:44 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Kebaya encim merupakan salah satu busana tradisional yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat di Indonesia. Pakaian ini dikenal sebagai hasil akulturasi budaya antara masyarakat Tionghoa dan pribumi, khususnya di wilayah Betawi.
Dilansir dari laman resmi media antaranews.com pada Rabu 8 April 2026, Kata Encim, menurut antropolog Diyah Wara, berasal dari bahasa Hokkien – sub-etnis dari salah satu etnisTionghoa, yang paling banyak di Nusantara—yang berarti bibi.
“Jadi, dulu perempuan-perempuan China waktu pakai itu (kebaya), sama orang dibilang “Oh, kebaya yang dipakai si Encim,” lama-lama disebut kebaya Encim,” ujar Diyah dalam festival budaya “Betawi Hari Ini” yang digelar di Jakarta, Sabtu 11 Agustus 2018.
Sejarah kebaya encim bermula dari kedatangan masyarakat Tionghoa ke Nusantara pada masa perdagangan. Para perempuan Tionghoa mulai beradaptasi dengan lingkungan lokal, termasuk dalam hal berpakaian.Mereka mengadopsi kebaya sebagai busana sehari-hari, namun tetap mempertahankan ciri khas mereka melalui bahan dan motif yang digunakan.
Ciri khas kebaya encim terletak pada penggunaan bahan yang ringan seperti katun atau voile, dengan hiasan bordir halus dan warna-warna cerah. Motif bunga menjadi salah satu ornamen yang paling sering digunakan, melambangkan keindahan dan kelembutan perempuan.
Selain pengaruh Tionghoa dan lokal, kebaya encim juga tidak lepas dari sentuhan budaya Eropa, khususnya pada masa kolonial oleh Belanda. Pengaruh ini terlihat pada teknik jahitan, penggunaan renda, serta model yang lebih rapi dan mengikuti bentuk tubuh.
Seiring waktu, kebaya encim tidak hanya digunakan oleh perempuan Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Betawi. Busana ini sering dikenakan dalam acara adat, perayaan, hingga kegiatan sehari-hari.
Saat ini, kebaya encim kembali populer di kalangan generasi muda. Banyak desainer yang mengangkat kembali kebaya encim dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya.
Upaya pelestarian kebaya encim juga terus dilakukan oleh berbagai komunitas budaya. Melalui festival, pameran, dan edukasi, masyarakat diajak untuk lebih mengenal dan mencintai busana tradisional ini.
Dengan sejarah panjang dan nilai budaya yang tinggi, kebaya encim tidak hanya sekadar pakaian, tetapi juga menjadi simbol identitas dan keberagaman budaya Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan. (Trisna Mutia Tihara – Mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun Jakarta).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....