Tradisi Ceng Beng di Cilincing Ramai, Warga Lakukan Larung Abu

  • 06 Apr 2026 07:06 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Kawasan Cilincing, Jakarta Utara, dipadati warga yang merayakan tradisi Ceng Beng pada Minggu, 5 April 2026. Bagi masyarakat Tionghoa, tradisi ini adalah kesempatan mereka untuk menghormati leluhur melalui prosesi ziarah dan larung abu ke laut.

Salah satu peziarah, Iwan, datang dari Bandung untuk mengikuti rangkaian tradisi tersebut. Ia mengatakan, Ceng Beng merupakan waktu khusus untuk mengenang jasa leluhur yang telah meninggal dunia.

"Hari ini saya memperingati tradisi Cheng Beng, yaitu peringatan penghormatan kepada leluhur kita yang sudah almarhum. Kenapa di Cilincing? Karena sesuai tradisi, almarhum sesudah kremasi dilarung ke sini," ujar Iwan saat ditemui Radio Republik Indonesia atau RRI Jakarta di lokasi pada Minggu, 5 April 2026.

Menurut Iwan, Cilincing menjadi salah satu lokasi yang dipilih karena memiliki akses laut untuk prosesi tersebut. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian penting dari budaya Tionghoa di Indonesia.

Ia juga menilai tradisi Ceng Beng kini berkembang menjadi simbol kebersamaan lintas keyakinan. Iwan melihat adanya partisipasi masyarakat dari berbagai latar belakang dalam prosesi tersebut.

"Saya melihat ke sini bahkan tadi dari (umat) Muslim juga ada yang melarung abu. Berarti kan ada satu keyakinan bahwa ini bukan soal agama, tapi ini soal penghormatan kepada leluhur saja, seperti ziarah atau nyadran," kata Iwan menambahkan. Ia menyebut tradisi ini memiliki kesamaan makna dengan ziarah dalam budaya lain.

Selain itu, Iwan mengapresiasi peningkatan fasilitas di kawasan Cilincing yang dinilai semakin tertata. Namun, ia berharap pemerintah dapat menambah sarana penunjang bagi peziarah.

“Dari segi fasilitas, semakin hari semakin ada perbaikan. Dampak positifnya terasa. Harapannya pemerintah bisa terus memfasilitasi agar semakin lama semakin baik, mengingat pengunjungnya selalu ramai tiap tahun," ucapnya. Ia menilai penambahan perahu dan tempat penampungan akan meningkatkan kenyamanan masyarakat.

Jejak Tradisi dan Makna Ceng Beng

Berdasarkan data dari laman resmi Pemerintah Kota Pangkalpinang, ritual Ceng Beng atau sembahyang kubur merupakan wujud penghormatan masyarakat Tionghoa kepada leluhur. Tradisi ini menunjukkan kuatnya nilai bakti keluarga, di mana anggota keluarga yang merantau pun berupaya pulang untuk mengikuti ritual tersebut.

Rangkaian Ceng Beng umumnya diawali dengan membersihkan makam yang dilakukan sekitar sepuluh hari sebelum puncak perayaan. Kegiatan ini menjadi simbol penghormatan sekaligus bentuk kepedulian terhadap tempat peristirahatan terakhir leluhur.

Puncak perayaan Ceng Beng jatuh setiap tanggal 5 April dalam kalender Masehi dan berlangsung sejak dini hari hingga menjelang fajar. Dalam prosesi tersebut, keluarga melakukan sembahyang serta mempersembahkan berbagai sesajian.

Sesajian yang dibawa antara lain buah-buahan, daging seperti ayam atau babi, aneka kue, makanan vegetarian, hingga minuman dan uang kertas simbolis. Selain itu, pembakaran dupa atau hio menjadi bagian penting yang menciptakan suasana khas dalam ritual tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....