Harmoni Tradisi Cheng Beng, Larung Abu di Cilincing
- 05 Apr 2026 20:16 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA– Di bawah terik matahari dan semilir angin laut di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, puluhan orang berkumpul dengan satu tujuan mulia: menghormati mereka yang telah mendahului. Salah satunya adalah Iwan, seorang pria asal Bandung yang sengaja datang jauh-jauh untuk memperingati tradisi Cheng Beng.
Bagi masyarakat Tionghoa, Cheng Beng bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah momen sakral untuk mengenang jasa dan mendoakan para leluhur. Di Cilincing, tradisi ini mengambil bentuk yang sedikit berbeda dari biasanya; bukan sekadar membersihkan makam, melainkan melakukan prosesi larung abu jenazah ke laut.
“Hari ini saya memperingati tradisi Cheng Beng, yaitu peringatan penghormatan kepada leluhur kita yang sudah almarhum,” ujar Iwan dengan nada penuh takzim kepada RRI Jakarta. Minggu 5 April 2026.
Cilincing dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan ini telah lama ditetapkan sebagai tempat pelarungan abu jenazah bagi mereka yang telah melalui proses kremasi. Bagi Iwan dan keluarganya, datang ke Cilincing seolah-olah menjadi cara untuk kembali "menengok" saudara atau orang tua yang secara fisik kini telah menyatu dengan alam dalam bentuk abu.
“Sesuai dengan tradisi, almarhum itu setelah melalui proses kremasi, dilarung ke Cilincing. Jadi kita ke sini seakan-akan menengok leluhur atau saudara kita yang ada di sini,” tambahnya.
Satu hal yang menarik dari pengamatan Iwan tahun ini adalah inklusivitas tradisi Cheng Beng. Meskipun berakar dari budaya Tionghoa, Cheng Beng di matanya telah berkembang menjadi tradisi budaya yang universal, melampaui batas-batas keyakinan tertentu.
Iwan bercerita bagaimana ia melihat keterbukaan masyarakat dalam menjalankan tradisi ini. “Tradisi itu tidak selalu ada hubungannya dengan agama. Saya melihat di sini, bahkan dari saudara kita yang Muslim juga ada yang ikut menabur atau melarung abu, mungkin karena kerabatnya,” tuturnya.
Ia pun menyamakan esensi Cheng Beng dengan tradisi ziarah atau nadran dalam Islam, di mana intinya adalah penghormatan kepada mereka yang sudah tiada.
Sebagai pengunjung rutin, Iwan merasakan adanya perubahan positif dari tahun ke tahun, terutama dari segi fasilitas. Namun, ia tetap berharap pemerintah dapat terus memberikan perhatian lebih, mengingat jumlah peziarah yang semakin meningkat setiap tahunnya.
“Berharap pemerintah bisa memfasilitasi untuk semakin lama semakin diperbaiki. Contohnya dari fasilitas tempat, meskipun hari ini saya melihat jauh lebih baik dari tahun-tahun lalu,” ungkapnya.
Bagi Iwan dan ribuan orang lainnya, Cheng Beng adalah pengingat bahwa meskipun raga telah tiada dan abu telah dilarung ke samudra luas, rasa hormat dan kasih sayang kepada leluhur akan tetap abadi, sedalam lautan Cilincing yang menyimpan kenangan mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....