Keraton Surakarta Hidupkan Tradisi Malam 21 Sambut Lailatul Qadar

  • 03 Mar 2026 22:09 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta: Keraton Surakarta Hadiningrat berencana kembali menggelar tradisi Malam 21 Ramadan sebagai bentuk kesungguhan spiritual dalam menyambut datangnya Lailatul Qadar. Ribuan masyarakat biasanya menghadiri acara yang menampilkan iring-iringan kirab tumpeng sewu (seribu tumpeng) dan pawai ting (lentera), menggambarkan harmoni antara ritual keagamaan dan budaya Jawa pada malam itu.

Pengajar Pawiyatan Pambiwara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KP Budayaningrat S. Yusdianto menjelaskan bahwa malam ke-21 memiliki kedudukan khusus sebagai penanda dimulainya fase akhir Ramadan. “Malam 21 menjadi penanda dimulainya malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan yang diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam program siaran radio Suara Budaya Nusantara pada Selasa, 3 Maret 2026.

Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan dimulai dari doa bersama hingga pembacaan ayat suci. Semuanya dilakukan secara terpusat demi menjaga kesakralan di lingkungan keraton.

Bagi pihak keraton, inti dari peringatan ini melampaui aspek seremonial karena mengandung nilai "laku batin" yang mendalam. “Ini bukan sekadar seremoni, tetapi laku batin untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah,” ujar Budayaningrat menjelaskan makna tirakatan. Fokus utama dari prosesi ini adalah menciptakan suasana khusyuk dan bersahaja agar refleksi spiritual dapat dilakukan secara maksimal oleh setiap individu.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini merupakan pilar penting dalam menjaga identitas budaya dan penguatan iman masyarakat Surakarta. Keraton tidak hanya mempertahankan simbol-simbol lahiriah, tetapi juga berkomitmen menjaga esensi filosofis di balik setiap prosesi yang dijalankan. Harmonisasi antara ajaran agama dan tata cara adat menjadi kekuatan utama yang membuat tradisi ini tetap relevan hingga saat ini.

Peran para pambiwara atau pakar pranatacara keraton menjadi sangat vital dalam menjaga keberlangsungan pakem tradisi tersebut. Mereka bertugas mengawal penggunaan tutur bahasa dan unggah-ungguh agar pesan-pesan luhur dapat tersampaikan dengan tepat kepada masyarakat. “Budaya dan agama di keraton berjalan selaras; kami berusaha menjaga agar generasi muda memahami maknanya, bukan hanya bentuknya,” kata KP Budayaningrat menambahkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....