Tradisi 'Malamang' Perkuat Silaturahmi dan Identitas Nagari
- 26 Feb 2026 20:20 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta: Masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat terus merawat tradisi "malamang" sebagai warisan leluhur yang sarat akan makna kebersamaan. Tradisi memasak lamang secara gotong royong ini biasanya menjadi pemandangan khas menjelang bulan suci Ramadan, Idulfitri, maupun upacara adat lainnya. Selain sebagai bentuk rasa syukur, kegiatan ini menjadi simbol kekompakan warga dalam menjaga nilai-nilai religius dan sosial di ranah Minang.
Pengurus Bundo Kanduang Sumatera Barat, Dian Anggraini, menjelaskan bahwa esensi utama dari aktivitas ini jauh melampaui proses mengolah makanan semata. Menurutnya, malamang merupakan ruang interaksi sosial yang mempererat hubungan kekeluargaan antarwarga di sebuah nagari. “Malamang itu bukan hanya soal makanan, tapi tentang bagaimana masyarakat berkumpul, saling membantu, dan mempererat hubungan kekeluargaan,” ujar Dian dalam siaran Suara Budaya Nusantara edisi 20 Februari 2026, siaran bersama RRI Pro 4 Jakarta dan RRI Pro 4 Padang.
Dian menegaskan bahwa proses pengerjaannya yang rumit—mulai dari menyiapkan bambu hingga menjaga nyala api—membutuhkan kerja sama tim yang solid dari berbagai lapisan usia. Ia menilai nilai-nilai luhur seperti musyawarah dan gotong royong yang terkandung di dalamnya merupakan fondasi penting bagi kekuatan masyarakat. “Lewat malamang, kita menguatkan nagari; ada nilai gotong royong, musyawarah, dan kebersamaan yang terus dijaga,” tambahnya dengan penuh semangat.
Keterlibatan keluarga besar, pemuda, hingga para ibu yang tergabung dalam Bundo Kanduang menjadikan halaman rumah atau lapangan terbuka riuh oleh semangat kebersamaan. Tidak hanya bagi orang dewasa, momen ini juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi budaya bagi generasi muda agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi. Dengan terjun langsung, para pemuda dapat memahami filosofi hidup bermasyarakat yang menjadi ciri khas identitas Minangkabau.
| Baca juga: Mengapa Perahu Naga Berlomba Setiap Tahun? |
Secara sosiologis, tradisi ini terbukti ampuh menjadi benteng budaya yang memperkokoh solidaritas antarwarga di tengah dinamika zaman yang kian individualis. Bundo Kanduang Sumatera Barat pun berkomitmen untuk terus mendorong pelestarian tradisi ini melalui berbagai kolaborasi strategis, termasuk melalui siaran udara bersama RRI. Harapannya, tradisi memasak dalam bambu ini tetap eksis sebagai perekat sosial yang tak lekang oleh waktu.
Melalui langkah pelestarian yang konsisten, masyarakat tidak hanya berhasil mengamankan kuliner khas lamang agar tetap lestari di lidah generasi mendatang. Lebih dari itu, mereka tengah merawat akar rumput silaturahmi yang menjadi modal utama dalam membangun kekuatan sosial di tingkat nagari. Malamang pun tetap tegak berdiri sebagai bukti bahwa kebersamaan adalah bumbu utama dalam setiap masakan dan kehidupan masyarakat Sumatera Barat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....