Ini Tradisi Masyarakat Purbalingga, Dalam Memeriahkan Ramadhan

  • 22 Feb 2026 23:40 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Tradisi masyarakat Purbalingga dalam menyambut dan menjalani Bulan Ramadhan selalu menghadirkan suasana religius yang kental dengan nuansa kebersamaan. Hal itu diungkapkan oleh Juweni, seorang ustad daerah Purbalingga, saat hadir sebagai narasumber dalam program Apresiasi Budaya Banyumas, di Pro 4 RRI Jakarta pada Jumat 20 Februari 2026.

Dalam perbincangan hangat bersama host Dermawan Ismail dan Kang Jori Guplak, Juweni menuturkan, bahwa Ramadhan di Purbalingga bukan sekadar ibadah personal, melainkan momentum mempererat ikatan sosial dan melestarikan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Menurut Juweni, salah satu tradisi yang masih kuat dijaga adalah kegiatan nyadran atau ziarah kubur menjelang Ramadhan. Dalam tardisi ini masyarakat berbondong-bondong membersihkan makam leluhur dan memanjatkan doa bersama sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat akan kematian. Tradisi ini bukan hanya ritual budaya, tetapi sarat nilai spiritual yang mengajarkan kerendahan hati dan introspeksi diri sebelum memasuki bulan suci.

Ia menegaskan, budaya dan agama berjalan berdampingan secara harmonis di tengah masyarakat Purbalingga.

Selain itu, suasana Ramadhan di Purbalingga juga terasa semarak dengan tradisi takjil bersama dan buka puasa kolektif di masjid maupun musala kampung. Warga dengan sukarela membawa hidangan sederhana untuk dinikmati bersama. Juweni menyebut, kebiasaan ini memperlihatkan semangat gotong royong khas Banyumasan yang tidak luntur oleh perkembangan zaman. Bahkan anak-anak muda pun turut aktif dalam kegiatan tadarus, ronda sahur, hingga membangunkan warga untuk sahur dengan cara-cara kreatif namun tetap santun.

Dalam dialog yang berlangsung hangat tersebut, Juweni juga menyoroti tradisi pengajian pasaran yang rutin digelar selama Ramadhan.

Pengajian ini biasanya diadakan setiap sore atau malam hari dengan menghadirkan ustad setempat. Materi yang disampaikan tidak hanya seputar fiqih puasa, tetapi juga akhlak, toleransi, serta penguatan nilai kebangsaan. Ia berharap generasi muda tidak hanya memandang Ramadhan sebagai rutinitas tahunan, melainkan sebagai ruang pembentukan karakter yang berlandaskan nilai religius dan budaya lokal.

Menutup perbincangan, Juweni menyampaikan bahwa kekuatan tradisi Ramadhan di Purbalingga terletak pada kebersamaan dan kesederhanaan masyarakatnya. Ia mengajak seluruh pendengar Pro 4 RRI Jakarta untuk menjaga tradisi baik yang selaras dengan ajaran agama.

Dermawan Ismail dan Kang Jori Guplak pun mengapresiasi kekayaan budaya spiritual masyarakat Purbalingga yang dinilai mampu menjadi inspirasi nasional dalam merawat harmoni antara agama dan budaya di Bulan Suci Ramadhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....