Mengintip Pabrik Tahu Tiga Generasi, Harga Kedelai Naik Harap Ada Subsidi
- 26 Jun 2026 13:50 WIB
- Jakarta
Video
RRI.CO.ID, Jakarta - Firmansyah adalah pengusaha tahu yang mewarisi pabrik tahu berusia lebih dari enam dekade, di wilayah Utan Kayu, Jakarta Timur. Saat ditemui di pabriknya, Selasa 16 Juni 2026, ia mengatakan, pengusaha tahu tidak leluasa menaikkan harga jual karena ketatnya persaingan di pasar tradisional ditengah fluktuasi harga bahan baku.
Dalam satu pasar, menurut dia, bisa terdapat puluhan pedagang tahu yang menawarkan produk serupa. Sebagian pengrajin memilih menyesuaikan ukuran produk. "Kalau untuk menaikkan harga agak sulit. Jadi biasanya tahu yang tadinya lebih tebal dibuat lebih tipis atau ukurannya diperkecil," kata Firmansyah.
Tekanan biaya produksi tidak hanya berasal dari kedelai impor. Menurutnya, harga minyak goreng, plastik kemasan, dan biaya operasional lain juga mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.
Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai, termasuk melalui subsidi atau kebijakan lain yang dapat membantu pelaku usaha tahu dan tempe. Menurutnya, sebagian besar kebutuhan kedelai saat ini masih bergantung pada impor.
"Saya berharap pemerintah bisa menyikapi kenaikan harga kedelai ini. Kalau bisa ada kebijakan atau subsidi kedelai dan bahan baku lainnya, supaya harganya tidak terus melonjak dan pengrajin tahu tetap bisa berproduksi," ujar Firmansyah.
Terbaru, pemerintah mulai menjalankan program Bantuan Stabilisasi Harga dan Pasokan Pangan (SPHP) kedelai untuk membantu perajin tahu dan tempe menghadapi kenaikan biaya produksi. Pada tahap awal, pemerintah menyiapkan kuota 250.000 ton kedelai yang masuk dalam paket stimulus ekonomi semester II 2026 melalui klaster bantuan pangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....