Muharram: Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW dan Dimensinya

  • 08 Jul 2024 12:45 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Selain menjadi awal tahun baru Hijriah, bulan ini juga mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga mengandung makna spiritual dan sosial yang dalam, terutama dalam konteks kecintaan pada tanah air.


Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW


Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya memutuskan hijrah ke Yastrib (Madinah) setelah 13 tahun menyebarkan risalah Islam di Mekah, yang ditolak oleh suku Quraisy. Kitab Mukhtasor Al-Bidayah wan Nihayah, ringkasan karya Al-Hafidz Ibnu Katsir, mencatat bahwa hijrah ini merupakan perintah Allah untuk menyelamatkan dakwah Islam dari ancaman pembunuhan.


Saat Rasulullah saw tiba di Madinah, kota tersebut sedang dilanda wabah demam, meskipun sektor perdagangan dan pertanian sudah berkembang dengan baik. Rasulullah saw, yang merindukan Mekah, berdoa, "Ya Allah, jadikanlah kami cinta Madinah sebagaimana Engkau membuat kami mencintai Mekah atau bahkan lebih dari itu."


Hijrah dan Cinta Tanah Air


Ustaz Faried Saenong dalam siaran radio kajian subuh 'Mutiara Pagi' di 91,2FM PRo1 RRI Jakarta menjelaskan bahwa hijrah Nabi Muhammad saw memiliki banyak dimensi, salah satunya adalah kecintaan terhadap tanah air. "Kita sebagai orang Indonesia harus mencintai tanah air kita, Indonesia, sebagaimana Nabi Muhammad saw mencintai Mekah," ujarnya.


Nabi Muhammad saw sangat mencintai Mekah, tanah kelahirannya. Ketika terpaksa meninggalkan Mekah, beliau menunjukkan kesedihannya dengan melihat kembali ke kota itu dari kejauhan, menandakan betapa besar cintanya pada tanah airnya. "Kesedihan Nabi semakin bertambah karena beliau tidak tahu apakah akan bisa kembali ke Mekah atau tidak," kata Ustaz Faried menambahkan.


Cinta Tanah Air dalam Konteks Modern


Cinta tanah air bagi umat Islam di Indonesia dapat diartikan sebagai rasa kebanggaan, rasa kepemilikan, dan rasa ketenangan yang kita rasakan ketika hidup di tanah air kita. "Kita harus mencintai dan membesarkan Indonesia, menjaga ketertiban, dan menghormati simbol-simbol negara seperti bendera merah putih dan Pancasila," ujar Ustaz Faried menegaskan.


Meskipun Indonesia bukan negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, prinsip-prinsip Islam telah terintegrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Kita bisa menjalankan ibadah dengan baik, seperti Ramadan, haji, dan pernikahan agama diatur dengan baik oleh negara," ucap Ustaz Faried menjelaskan.


Penghormatan terhadap Simbol Negara


Sebagai bagian dari cinta tanah air, umat Islam di Indonesia juga diharapkan menghormati simbol-simbol negara. "Simbol-simbol seperti bendera merah putih, lagu kebangsaan, konstitusi, dan undang-undang adalah bagian dari identitas kita sebagai bangsa Indonesia," kata Ustaz Faried.


Menghormati simbol-simbol ini bukan hanya menunjukkan rasa cinta pada negara, tetapi juga merupakan bagian dari ajaran Islam yang mengajarkan untuk mencintai tanah air. "Kita harus menjunjung tinggi semua hal yang mewakili bangsa dan negara kita," katanya menammbahkan.


Hijrah sebagai Inspirasi untuk Masa Depan


Hijrah Nabi Muhammad saw menurut Ustaz Farid Saenong memberikan pelajaran penting bagi kita tentang kecintaan pada tanah air. "Hijrah bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga perubahan spiritual dan sosial untuk menjadi lebih baik," ujarnya.


Bulan Muharram ini, Ustaz Faried mengajak kita semua merefleksikan makna hijrah dan kecintaan Nabi Muhammad SAW pada tanah air. Dengan harapan dapat mengambil inspirasi dari kisah hijrah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, mencintai dan membangun Indonesia dengan penuh semangat dan dedikasi.





Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....