Jangan kehilangan Allah Ditengah Kesibukan Dunia
- 07 Okt 2026 11:41 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Jangan kehilangan Allah Ditengah Kesibukan Dunia
RRI.CO.ID,Jakarta- Kesibukan bekerja dan berusaha bukan dosa, selama aktivitas dunia tidak membuat manusia melupakan Allah dalam kehidupannya. Ustaz mengingatkan, dunia boleh dimiliki, tetapi jangan sampai kesibukan membuat hati semakin jauh dari Allah SWT dalam keseharian.
“Kita hidup pada zaman ketika hampir semua orang sibuk bekerja, berdagang, mengajar, belajar, mengurus keluarga, mengejar karir, membangun usaha dan lain sebagainya, Kesibukan itu sendiri bukanlah dosa . Islam tidak mengajarkan umatnya meninggalkan dunia kita diperintahkan bekerja, mencari rizki yang halal, menuntut ilmu, membangun keluarga, dan memberi manfaat kepada masyarakat “, demikian dikatakan Narasumber Ustadz Nur Khayin Muhdlor ,Lc, ME Rabu 7 oktober 2026.
Menurut Ustadz Khayin yang berbahaya adalah ketika tangan kita sibuk dengan dunia lalu hati kita kehilangan Allah, memiliki pekerjaan tapi kehilangan ketenangan ,memiliki penghasilan tetapi kehilangan keberkahan ,memiliki banyak teman tetapi hati terasa sepi , Jadwal semakin penuh tapi hubungan dengan Allah semakin kosong. Seorang Muslim boleh kaya, memiliki usaha, jabatan, rumah, kendaraan, serta pendidikan tinggi, selama semuanya diarahkan mendekatkan diri kepada Allah.
Ia menegaskan, ukuran keberhasilan bukan sekadar bertambahnya harta, melainkan kemampuan menjadikan harta sebagai jalan menuju akhirat.
Seorang pendengar, Bang Ican, menanyakan makna nasihat Malaikat Jibril, “Hiduplah sesukamu, tetapi ingat sesungguhnya engkau akan mati.”
Menjawab pertanyaan tersebut, narasumber menjelaskan, kalimat itu bukan kebebasan melakukan apa saja, melainkan peringatan tentang kematian dan pertanggungjawaban.
| Baca juga: Tiga Solusi Langit agar Bisnis Tidak Merugi |
Ustadz Khayin menambahkan, setiap pilihan manusia memiliki konsekuensi, sebab kehidupan, kecintaan, dan perbuatan semuanya akan berakhir pada pertanggungjawaban., dunia seharusnya berada di tangan, sedangkan akhirat tetap menjadi tujuan utama yang memenuhi hati seorang Muslim.
Pendengar lainnya menyampaikan, keseimbangan dunia dan akhirat terasa berat ketika pekerjaan, bisnis, serta urusan keluarga menyita seluruh perhatian. Menanggapi hal tersebut, narasumber menjawab, aktivitas duniawi dapat bernilai ibadah apabila diniatkan mencari keridaan Allah dan dilakukan secara halal.
Sebagai penutup dialog Ustadz menyampaikan jangan berhenti mengejar dunia, tetapi jangan kehilangan Allah ketika mengejar rezeki, jabatan, maupun kesuksesan dalam kehidupan. Ia juga mengajak masyarakat menjadikan waktu kehidupan sebagai kesempatan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan kekal di akhirat bersama Allah SWT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....