Universitas Ibnu Chaldun Wisuda 486 Lulusan, Tekankan Adaptasi Hadapi Era AI
- 07 Okt 2026 12:08 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Universitas Ibnu Chaldun Jakarta meluluskan 486 mahasiswa dari Program Sarjana dan Magister Tahun Akademik 2025/2026 dalam upacara wisuda di Puri Ardhya Garini, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.
- Para lulusan berasal dari lima unit akademik: Fakultas Sains dan Kesehatan, Fakultas Agama Islam, Fakultas Ilmu Sosial Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum dan Humaniora, serta Sekolah Pascasarjana.
- Dalam wisuda ini, lulusan diberikan pesan penting untuk terus belajar, beradaptasi dengan perubahan teknologi, menjaga integritas, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
RRI.CO.ID, Jakarta – Universitas Ibnu Chaldun atau UIC Jakarta hari ini mewisuda 486 lulusan Program Sarjana dan Magister Tahun Akademik 2025/2026 di Puri Ardhya Garini, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Dalam wisuda ini, para lulusan mendapat pesan untuk terus belajar, beradaptasi dengan perubahan teknologi, menjaga integritas, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Para lulusan berasal dari lima unit akademik, yaitu Fakultas Sains dan Kesehatan, Fakultas Agama Islam, Fakultas Ilmu Sosial, Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum dan Humaniora, serta Sekolah Pascasarjana. Prosesi wisuda turut dihadiri Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Henri Togar Hasiholan Tambunan, Koordinator Kopertais Wilayah I Asep Saepudin Jahar, Ketua Umum Yayasan Pembina Pendidikan Ibnu Chaldun Edy Haryanto, serta Rektor Universitas Ibnu Chaldun Rahmah Marsinah.

Wisuda Universitas Ibnu Chaldun Tekankan Adaptasi
Rektor Universitas Ibnu Chaldun Rahmah Marsinah mengatakan pendidikan tinggi tidak cukup hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa. Menurutnya, perguruan tinggi juga harus membentuk karakter dan pola pikir agar lulusan mampu menghadapi perubahan teknologi, transformasi digital, kecerdasan buatan, perubahan sosial, dan dinamika ekonomi.
Rahmah berpesan agar para lulusan tidak berhenti belajar, menjaga integritas, memberikan manfaat bagi masyarakat, berani menghadapi perubahan, serta menjaga nama baik almamater. Ia menegaskan gelar akademik bukan akhir dari proses pembelajaran, melainkan bekal untuk menghasilkan karya dan pengabdian.
“Keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi posisi yang dapat Saudara capai, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat Saudara berikan,” ujar Rahmah dalam sambutannya.
Lulusan Diminta Siap Hadapi Perubahan Dunia Kerja
Ketua Umum Yayasan Pembina Pendidikan Ibnu Chaldun Edy Haryanto mengatakan kelulusan merupakan awal perjalanan baru bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja dan masyarakat. Ia menilai perubahan teknologi dan persaingan global membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kecerdasan sekaligus integritas dan karakter.
“Sebagai lulusan Universitas Ibnu Chaldun, jadikan ilmu yang Saudara peroleh sebagai bekal untuk berkarya, memberikan manfaat, dan membangun masyarakat serta bangsa,” kata Edy.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Henri Togar Hasiholan Tambunan mengingatkan lulusan mengenai perubahan kebutuhan tenaga kerja akibat otomatisasi dan efisiensi industri. Menurutnya, kompetensi teknis saja tidak cukup sehingga lulusan perlu memiliki keberanian menciptakan peluang dan lapangan kerja.
Henri juga mendorong penguasaan teknologi diarahkan untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. Menurutnya, kompetensi tersebut harus tetap berlandaskan nilai keimanan dan moral sesuai semangat Universitas Ibnu Chaldun yang menggabungkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan iman dan takwa.

Kecerdasan Buatan Jadi Tantangan Lulusan
Pesan mengenai perubahan teknologi juga disampaikan Analis Kebijakan Utama Bidang Jianbang Lemdiklat Polri, Andry Wibowo, dalam orasi ilmiahnya. Ia mengangkat tema “Membangun Generasi Unggul, Berintegritas, Prediktif, dan Berkarakter: Menyiapkan Pemimpin Masa Depan yang Tangguh di Era Transformasi Global”.
Andry mengatakan generasi muda menghadapi tantangan berupa disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, otomatisasi, perubahan lanskap pekerjaan global, ancaman siber, hoaks, perundungan, hingga menurunnya kepedulian sosial. Karena itu, kemampuan akademik dan penguasaan teknologi perlu dilengkapi dengan integritas serta karakter.
“Pintar saja tidak lagi cukup; kita butuh generasi yang utuh,” tegas Andry.
Ia menjelaskan kecerdasan buatan berpotensi mengubah cara manusia belajar, bekerja, menganalisis informasi, mengambil keputusan, dan menciptakan sesuatu. Namun, perkembangan tersebut tetap membutuhkan tanggung jawab manusia dalam menentukan tujuan, nilai, batas, dan pertanggungjawaban penggunaannya.
“Kecerdasan buatan dapat membantu manusia, tetapi manusia tetap harus menentukan tujuan, nilai, batas, dan pertanggungjawaban penggunaannya,” ujar Andry.
Karakter dan Kemampuan Beradaptasi
Koordinator Kopertais Wilayah I Asep Saepudin Jahar turut menekankan pentingnya karakter dan kemampuan beradaptasi setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi. Menurutnya, nilai indeks prestasi kumulatif penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang.
“Tapi yang jauh lebih penting adalah kecerdasan di dalam beradaptasi terhadap perubahan,” ujarnya.
Salah satu perwakilan wisudawan, Nadira Rahmadini, lulusan Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial, Ekonomi dan Bisnis dengan indeks prestasi kumulatif 3,93, menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, wisuda menjadi awal bagi lulusan untuk menerapkan ilmu, membangun profesionalisme, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....