Stoicism, Cara Lama Menghadapi Hal yang Tak Bisa Dikendalikan

  • 06 Okt 2026 15:20 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Stoicism, Cara Lama Menghadapi Hal yang Tak Bisa Dikendalikan

RRI.CO.ID, Jakarta - Tidak semua hal dalam hidup berjalan sesuai keinginan. Respons orang lain, penilaian lingkungan, hingga hasil dari sebuah usaha sering kali berada di luar kendali. Di tengah situasi tersebut, stoicism atau filsafat Stoa kembali banyak dibicarakan sebagai cara untuk melihat persoalan dengan lebih tenang.

Stoicism merupakan aliran filsafat yang berkembang sejak masa Yunani-Romawi. Salah satu tokohnya, Epictetus, menekankan pentingnya membedakan hal yang berada dalam kendali seseorang dan hal yang berada di luar kendalinya. Penilaian, pilihan, keinginan, dan respons terhadap suatu keadaan termasuk hal yang dapat diusahakan oleh seseorang. Sementara itu, kondisi eksternal seperti reputasi, kepemilikan, dan tindakan orang lain tidak sepenuhnya berada dalam kuasa seseorang.

Gagasan tersebut bukan berarti seseorang harus bersikap pasif terhadap keadaan. Dalam pemikiran Epictetus, manusia tetap memiliki tanggung jawab atas cara menilai dan merespons suatu peristiwa. Karena itu, menghadapi masalah bukan sekadar menerima keadaan, tetapi juga memeriksa kembali penilaian sebelum menentukan tindakan.

Stoicism juga tidak mengajarkan manusia untuk menjadi pribadi yang tidak memiliki emosi. Stanford Encyclopedia of Philosophy menjelaskan bahwa Epictetus tidak menganggap seseorang harus menjadi seperti patung tanpa perasaan. Yang ditekankan adalah kemampuan memperbaiki penilaian sehingga seseorang tidak sepenuhnya dikuasai oleh respons emosional terhadap keadaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini dapat digunakan ketika seseorang menghadapi kritik, kegagalan, atau situasi yang tidak sesuai harapan. Pertanyaannya bukan hanya “mengapa ini terjadi?”, tetapi juga “apa yang masih bisa saya lakukan?”. Dengan membedakan keduanya, perhatian dapat diarahkan pada keputusan dan tindakan yang memang berada dalam jangkauan diri.

Pemikiran Stoik yang menempatkan penilaian dan respons sebagai bagian penting dalam menghadapi keadaan juga memiliki kemiripan dengan sejumlah gagasan dalam psikologi modern. American Philosophical Association mencatat adanya hubungan historis antara Stoicism dan perkembangan cognitive behavioral therapy (CBT), khususnya mengenai hubungan antara keyakinan, pikiran, emosi, dan perilaku.

Pada akhirnya, stoicism bukan tentang membuat hidup bebas dari masalah. Filsafat ini lebih mengajak seseorang mengenali batas kendali dirinya, menilai keadaan secara lebih hati-hati, dan memilih respons yang dapat dipertanggungjawabkan. Di tengah berbagai hal yang tidak selalu dapat diatur, mungkin yang masih bisa dipilih adalah bagaimana seseorang menghadapinya.

Penulis: Hafiza Aulia Rahmawati

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....