Memilih Media Filter Air Tak Bisa Asal, Ini Dampaknya pada Hasil Pengolahan
- 15 Sep 2026 18:06 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Memilih Media Filter Air Tak Bisa Asal, Ini Dampaknya pada Hasil Pengolahan
RRI. CO. ID, Jakarta - Kebutuhan terhadap air dengan kualitas yang sesuai untuk berbagai keperluan membuat proses pengolahan air semakin mendapat perhatian. Salah satu tahapan yang banyak digunakan adalah filtrasi menggunakan media tertentu, seperti pasir silika, karbon aktif, zeolit, dan material lainnya.
Namun, pemilihan media filter masih kerap dipahami secara sederhana. Tidak sedikit yang menganggap semua media memiliki fungsi serupa atau cukup memilih berdasarkan ukuran filter dan harga material.
Padahal, setiap media memiliki karakteristik berbeda. Ketidaksesuaian antara media yang digunakan dengan kondisi air dapat membuat proses filtrasi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis. Bagi masyarakat, pemilihan media yang kurang tepat dapat berujung pada meningkatnya kebutuhan perawatan, penggantian material, maupun biaya tambahan untuk pengolahan air.
Agus Ruswandi, Tim Teknis PT Sibara Bestari Indonesia, mengatakan kondisi air menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan sebelum menentukan media filtrasi.
"Yang perlu dilihat terlebih dahulu adalah kondisi air dan parameter yang ingin ditangani. Dari situ baru dapat ditentukan proses serta media yang sesuai," ujar Agus seperti rilis yang diterima RRI, Selasa 15 September 2026.
Kondisi Air Tidak Selalu Bisa Dilihat dari Penampilan
Salah satu persoalan dalam pengolahan air adalah kondisi air tidak selalu dapat diketahui hanya dari penampilan fisiknya.
Air yang terlihat jernih belum tentu memiliki karakteristik yang sama dengan air dari sumber lainnya. Sebaliknya, air yang terlihat keruh juga belum tentu memiliki penyebab yang sama.
Parameter seperti kekeruhan, warna, bau, kandungan besi, mangan, maupun karakteristik lainnya dapat memerlukan pendekatan pengolahan yang berbeda.
Menurut Agus, pemeriksaan terhadap karakteristik air dapat membantu menentukan pendekatan pengolahan yang lebih sesuai.
| Baca juga: Voxstream dan ADKASI Bahas Data Pemilu 2029 |
"Air yang terlihat sama secara visual belum tentu mempunyai parameter yang sama. Karena itu, keputusan memilih media sebaiknya tidak hanya berdasarkan kondisi yang terlihat oleh mata," kata Agus.
Perbedaan tersebut menjadi penting bagi masyarakat maupun pelaku usaha yang menggunakan sistem pengolahan air. Kesalahan pada tahap awal dapat memengaruhi proses berikutnya.
Pasir Silika Bukan untuk Semua Persoalan Air
Pasir silika merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam sistem filtrasi. Pada aplikasi tertentu, material ini digunakan dalam sand filter untuk membantu menahan partikel dan padatan tersuspensi.
Namun, pasir silika tidak dirancang untuk menangani seluruh persoalan kualitas air.
Karbon aktif, misalnya, mempunyai karakteristik berbeda dan digunakan dalam aplikasi yang memanfaatkan proses adsorpsi. Media lainnya juga memiliki karakteristik dan tujuan penggunaan masing-masing.
Zaini, Tim Marketing PT Sibara Bestari Indonesia, mengatakan perbedaan fungsi media menjadi salah satu hal yang sering perlu dijelaskan kepada calon pengguna.
"Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah satu jenis media bisa digunakan untuk semua kondisi air. Padahal, kebutuhan setiap sistem bisa berbeda sehingga fungsi masing-masing media perlu dipahami terlebih dahulu," ujar Zaini.
Pemahaman tersebut dapat membantu pengguna menghindari pemilihan material hanya berdasarkan popularitas atau kebiasaan penggunaan pada sistem lain.
Kesalahan Perhitungan Bisa Memengaruhi Sistem
Selain jenis media, jumlah material yang digunakan juga menjadi bagian penting dalam sistem filtrasi.
Kebutuhan media tidak selalu dapat ditentukan hanya dari ukuran tabung. Beberapa faktor seperti volume bed, kedalaman media, ukuran butiran, bulk density, laju aliran, dan susunan lapisan dapat menjadi bagian dari perhitungan.
Pada sistem dengan beberapa lapisan media, setiap material dapat memiliki posisi dan fungsi yang berbeda.
Perhitungan yang tidak sesuai dapat berpengaruh terhadap cara sistem bekerja. Penggunaan media yang terlalu sedikit dapat membuat kedalaman lapisan tidak sesuai dengan rancangan. Sementara pengisian tanpa memperhatikan ruang yang dibutuhkan untuk proses backwash juga dapat menimbulkan persoalan operasional.
Agus menjelaskan bahwa ukuran vessel bukan satu-satunya dasar dalam menentukan kebutuhan media.
"Ukuran vessel memang menjadi salah satu data yang diperlukan, tetapi bukan satu-satunya patokan. Perhitungan harus melihat volume media, susunan lapisan, dan kondisi operasi filter," ujar Agus.
Hal tersebut menjadi semakin penting pada sistem yang memiliki beberapa lapisan media atau digunakan secara terus-menerus dalam kegiatan usaha maupun industri.
Dampaknya Bisa Berujung pada Biaya Tambahan
Ketidaktepatan dalam memilih dan mengoperasikan media filtrasi pada akhirnya dapat berdampak pada biaya.
Pengguna dapat membutuhkan penggantian media lebih cepat, melakukan penyesuaian sistem, atau menambahkan tahapan pengolahan ketika hasil yang diperoleh belum sesuai dengan kebutuhan.
Pada skala rumah tangga, persoalan tersebut dapat berupa meningkatnya kebutuhan perawatan atau penggantian material. Pada fasilitas usaha dan industri, dampaknya dapat berkaitan dengan penggunaan energi, air untuk backwash, tenaga operasional, hingga waktu henti sistem.
Isnu Firmansyah, Direktur Marketing PT Sibara Bestari Indonesia, menilai pertimbangan biaya sebaiknya tidak dilepaskan dari kesesuaian sistem.
"Harga material memang menjadi salah satu pertimbangan, tetapi kesesuaian media dengan sistem perlu diperhatikan terlebih dahulu. Material yang lebih murah belum tentu menghasilkan biaya keseluruhan yang lebih rendah jika tidak sesuai dengan kebutuhan," ujar Isnu.
Menurutnya, pemahaman mengenai kebutuhan pengolahan sejak awal dapat membantu pengguna menentukan pilihan secara lebih rasional.
Kebutuhan Pengolahan Air Terus Berkembang
Penggunaan sistem filtrasi tidak hanya ditemukan pada industri. Berbagai kebutuhan pengolahan air dapat ditemukan pada fasilitas usaha, tempat komersial, maupun penggunaan lainnya.
Kondisi sumber air yang berbeda membuat pendekatan pengolahan tidak selalu dapat disamakan.
Mufid Dahlan, Direktur Utama PT Sibara Bestari Indonesia, mengatakan perkembangan kebutuhan pengolahan air juga membuat pemahaman terhadap sistem menjadi semakin penting.
"Pengolahan air bukan hanya persoalan memilih material. Ada kondisi air, kebutuhan pengguna, desain sistem, dan proses operasional yang perlu dilihat sebagai satu kesatuan," ujar Mufid.
Menurut Mufid, pemahaman tersebut diperlukan agar keputusan terkait pengolahan air tidak hanya didasarkan pada satu faktor.
Pemilihan Media Perlu Melihat Sistem Secara Keseluruhan
Dalam sistem tertentu, proses filtrasi hanya menjadi salah satu tahapan pengolahan. Beberapa jenis media maupun proses lain dapat digunakan secara bertahap sesuai kondisi air dan target pengolahan.
Agus menambahkan bahwa media filter sebaiknya dipandang sebagai bagian dari keseluruhan sistem.
"Filtrasi sebaiknya dilihat sebagai bagian dari sistem secara keseluruhan. Jenis media, susunan media, kualitas air, dan kondisi operasi saling berkaitan," ujar Agus.
Dengan memahami hubungan tersebut, pemilihan media dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kondisi sistem, bukan sekadar mengikuti penggunaan material pada aplikasi lain.
Pada akhirnya, tidak ada satu jenis media yang secara otomatis sesuai untuk seluruh kondisi pengolahan air. Karakteristik air, fungsi material, desain filter, serta kondisi operasional menjadi sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan pilihan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....