Menolak Lupa, 12 September 1984, Kesaksian Warga Pada Tragedi Tanjung Priok

  • 12 Sep 2026 15:48 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, AKARTA — Di sudut rumah kontrakan yang berhadapan langsung dengan musala atau yang warga lokal kenal sebagai langgar Pak Dono Karsono (77) berdiri menatap ke arah jalanan. Pria kelahiran akhir 1949 ini merupakan salah satu saksi hidup yang menyaksikan langsung detik-detik berdarah Tragedi Tanjung Priok pada September 1984 silam.

Bagi Pak Dono, ingatan akan malam mencekam puluhan tahun lalu itu tak pernah benar-benar pudar. Suasana riuh warga yang bermula dari kekecewaan mendalam terhadap tindakan aparat masih tergambar jelas di benaknya.

Peristiwa itu diawali saat petugas Babinsa mendatangi musala untuk membersihkan pamflet kritikan yang dipasang oleh pemuda setempat. Namun, tindakan petugas yang menyiram air got kotor hingga masuk ke dalam musala tanpa melepas sepatu memicu kemarahan besar warga setempat.

"Begitu ambil air got, disiram... kotor jadinya. Terus masuk ke musala tanpa buka sepatu, begitu saja. Ya warga marah," kenang Pak Dono saat menceritakan ketegangan di depan rumahnya kepada RRI Jakarta. Jumat 11 September 2026.

Kemarahan warga yang meluap berujung pada pembakaran sepeda motor milik petugas. Situasi makin memanas ketika memasuki tengah malam, saat ratusan warga berbondong-bondong berkumpul menuntut pembebasan rekan-rekan mereka serta tokoh masyarakat, Amir Biki, yang ditangkap oleh aparat.

Sekitar pukul 23.00 WIB, keheningan malam pecah oleh suara tembakan senjata api. Memasuki pukul 24.00 WIB, rentetan tembakan tak terkendali mengarah ke kerumunan massa yang hanya berbekal tangan kosong.

"Jam 11 malam terdengar suara tembakan satu, dua kali. Pas jam 12 lewat, berondong... Orang-orang pada kabur semua. Ada yang jatuh, ada yang mati. Banyak yang mati," kata Pak Dono dengan nada lirih.

Kejadian memilukan tak berhenti sampai di situ. Jelang waktu subuh sekitar pukul 03.00 WIB, Pak Dono menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Truk pemadam kebakaran melintas untuk menyemprot dan membersihkan bercak darah yang memenuhi jalanan, sementara korban selamat maupun tewas diangkut menggunakan kendaraan militer.

"Pemadam lewat dari sana, menyemprot jalanan karena darah banyak berceceran. Yang mati, yang belum mati, diangkut ke mobil militer... dilempar-dilemparkan," tuturnya.

Kini, lebih dari empat dekade sejak malam kelam itu berlalu, kehidupan di sekitar langgar telah kembali tenang. Namun, bagi Pak Dono dan warga yang menyaksikan langsung kekerasan masa lalu itu, ingatan tentang korban yang berjatuhan di tanah kelahiran mereka menjadi bagian dari sejarah yang akan terus dirawat agar kemanusiaan tak lagi diabaikan.

Warga lainnya saat RRI Jakarta mengunjungi kesaksian warga setempat tidak ingin disebut namanya, saat kejadian masih duduk di bangku SMP kelas satu mengenang situasi mencekam yang terjadi di lingkungannya. Peristiwa tersebut bermula dari kekecewaan warga terhadap sikap aparat penegak hukum yang dianggap melanggar etika tempat ibadah.

"Ada polisi masuk ke musala (langgar) pakai sepatu. Warga di sini enggak terima dong, kan ini tempat suci. Akhirnya warga marah dan pembakaran sepeda motor petugas tidak terelakkan," ungkap saksi saat menceritakan penyerangan awal yang memicu ketegangan.

Akibat aksi tersebut, penangkapan terhadap warga mulai terjadi. Saksi menceritakan bahwa kerabatnya turut menjadi korban penangkapan dan harus melarikan diri untuk menyelamatkan diri dari kejaran aparat.

Ketegangan makin meluas ketika tokoh penceramah setempat, Amir Biki, mulai menyuarakan penolakan terhadap tindakan represif aparat dan menuntut pembebasan warga yang ditangkap.

Amir Biki yang dikenal berani dalam menyampaikan kritik politik akhirnya tewas tertembak di kawasan Gang 27, Sindang.

"Pak Amir Biki itu berani, ceramahnya tegas. Beliau ditembak di tempat saat situasi makin panas," kenang saksi.

Pascapenembakan, atmosfer di Tanjung Priok berubah mencekam. Banyak warga memilih mengungsi karena ketakutan akibat penyisiran ketat yang dilakukan oleh pihak kepolisian dan militer. Saksi mengaku keluarganya harus mengungsi ke kawasan Kranji, Bekasi, demi keamanan.

Melalui narasi Menolak Lupa, warga berharap agar tragedi kelam seperti peristiwa Tanjung Priok ini tidak pernah ditutup-tutup dan dapat diselesaikan secara adil. Penuntasan kasus HAM masa lalu dianggap penting agar tindakan sewenang-wenang oleh aparat terhadap rakyat tidak kembali terulang di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....