Menjaga Lisan dan Jempol Diera Digital

  • 10 Sep 2026 08:05 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID.Jakarta-Ustazah Linda Lestari S.Ag., M.Sos mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan jempol ketika berkomunikasi secara bijak di era digital. Dalam kajian Hikmah Pagi RRI Pro 4, ia menegaskan setiap ucapan dan tulisan memiliki konsekuensi moral bagi penggunanya.

Menurut Ustazah Linda, lisan merupakan nikmat Allah yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebaikan maupun keburukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ia menjelaskan, setiap perkataan manusia tercatat, sehingga penggunaan media sosial juga perlu dilakukan dengan tanggung jawab dan kehati-hatian.

“Dari lisan seseorang akan diketahui seberapa besar kualitas keimanan , kualitas kecerdasan, dari lisan pula seseorang akan diketahui identitas kekufurannya , Selain merupakan nikmat Allah Lisan juga merupakan salah satu ayat-ayat Allah yang Allah turunkan dua jalan kebaikan dan jalan keburukan , Jalan kebenaran juga jalan kesesatan “, Ujar ustazah Linda

Di dalam surat Al-Balad Allah SWT berfirman Lidah dan dua bibir Yang kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan ,Jadi lisan itu raja atas semua anggota tubuh Semua tunduk dan patuh kepada lisan , Jika lisan lurus, maka semua anggota tubuh kita ikut lurus namun jika lisan bengkok, maka semuanya ikut bengkok .Kemudian seorang manusia juga bisa masuk surga disebabkan lisannya , Apabila benar lisannya, maka dia akan mendapatkan pahala , bila salah, maka dia akan mendapatkan dosa.

Linda mengatakan, "bukan hanya lisan yang kita jaga, tapi juga jempol kita yang mengetik atau menuliskan sesuatu tersebut." Menurutnya, tulisan berupa kritikan tajam, hinaan, atau ucapan vulgar dapat menimbulkan akibat sebagaimana perkataan langsung bagi orang lain.

Menjawab pertanyaan pendengar, Linda menjelaskan gibah terjadi ketika seseorang menyebut keburukan saudaranya yang tidak disukainya meskipun benar adanya. Karena itu, ia menyarankan memperbanyak istighfar dengan penyesalan sungguh-sungguh, sekaligus menghindari kebiasaan membicarakan keburukan orang lain setiap hari.

Seorang pendengar Dani dari kemayoran menanyakan cara menjaga lisan setelah ibadah haji, khususnya dari perbuatan fusuk, rofas, dan jidal dalam kehidupan. Linda menjawab, menjaga lisan tidak hanya berlaku selama berhaji, tetapi harus diterapkan sepanjang kehidupan setelah kembali ke Indonesia.

Menutup kajian, Linda berpesan agar masyarakat berpikir sebelum berkata dan melakukan "saring sebelum sharing"di ruang digital. Menurutnya, media sosial sebaiknya dimanfaatkan sebagai ladang pahala melalui informasi bermanfaat, nasihat santun, dan komunikasi positif bagi sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....