Sukun untuk Ketahanan Pangan, Potensi Tanaman Lokal Kepulauan Seribu di FLONA

  • 05 Sep 2026 21:34 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA — Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Kepulauan Seribu memberikan edukasi kepada pengunjung Stan Kabupaten Kepulauan Seribu dalam Pameran Flora dan Fauna (FLONA) 2026. Kali ini, masyarakat diajak mengenal potensi pohon sukun sebagai tanaman pangan lokal yang memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi.

Sosialisasi yang digelar di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu 5 September 2026, menjadi bagian dari upaya memperkenalkan tanaman pangan lokal kepada masyarakat sekaligus mendorong pengembangannya di wilayah Kepulauan Seribu.

Kasubbag Tata Usaha Sudin KPKP Kepulauan Seribu, Kunto, mengatakan pohon sukun merupakan tanaman tropis yang dapat tumbuh dengan baik di wilayah beriklim panas dan lembap. Tanaman tersebut umumnya berkembang optimal pada dataran rendah dengan kondisi tanah yang subur serta memiliki sistem drainase yang memadai.

“Sebagai tanaman tropis, pohon sukun dapat tumbuh dengan baik di wilayah beriklim panas dan lembap. Tanaman ini umumnya berkembang optimal di dataran rendah dengan kondisi tanah yang subur serta sistem drainase yang memadai,” kata Kunto.

Menurut Kunto, sukun memiliki kemampuan beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan, termasuk kawasan pesisir. Karena itu, tanaman tersebut dinilai relevan untuk dikembangkan sebagai salah satu tanaman pangan lokal di Kepulauan Seribu.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, pengunjung juga diperkenalkan dengan proses pembibitan pohon sukun, mulai dari teknik perbanyakan hingga cara perawatannya. Masyarakat diberikan pemahaman mengenai berbagai manfaat sukun yang memiliki nilai ekologis, pangan, serta potensi ekonomi bagi masyarakat.

Tak hanya buahnya yang dapat dikonsumsi, sukun juga dapat diolah menjadi beragam produk pangan. Mulai dari keripik sukun, bolu sukun, kue lumpur sukun, getuk sukun, hingga kolak sukun.

Keanekaragaman olahan tersebut menunjukkan besarnya peluang sukun untuk dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis tanaman pangan lokal.

“Tidak hanya menghasilkan buah yang bermanfaat, pohon sukun juga dapat diperbanyak melalui metode vegetatif, salah satunya dengan teknik stek. Dengan metode tersebut, masyarakat dapat turut berpartisipasi dalam memperbanyak, melestarikan, dan mengembangkan tanaman pangan lokal secara berkelanjutan,” tutur Kunto.

Kehadiran edukasi mengenai sukun di FLONA 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa tanaman pangan lokal tidak hanya memiliki fungsi sebagai sumber makanan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Pameran FLONA 2026 berlangsung pada 28 Agustus hingga 28 September 2026. Stan Kabupaten Kepulauan Seribu mengusung konsep yang menggambarkan Jakarta sebagai ruang tumbuh yang mempertemukan keberagaman flora, fauna, dan kearifan lokal dari berbagai wilayah Indonesia.

Stan tersebut dirancang sebagai perjalanan visual dan ekologis yang menghadirkan pesona kepulauan, Maluku, hingga Nusa Tenggara. Konsepnya ditampilkan melalui nuansa sabana kering, bentang alam semi-arid, vegetasi xerofit, serta lanskap kepulauan yang eksotis.

Selain kekayaan alam, FLONA 2026 juga menghadirkan bursa flora dan fauna, kuliner, instalasi flora dan fauna, pameran, serta bazar. Konsep enam zona ekoregion Nusantara turut memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal karakter dan kekayaan alam dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....