5 Tanda Riya yang Sering Tak Disadari, termasuk di Media Sosial

  • 24 Agt 2026 13:12 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Kajian tafsir mengajak umat memahami bahaya riya dan pentingnya menjaga keikhlasan dalam beramal.
  • Di era media sosial, umat diajak lebih mengutamakan ridha Allah daripada mencari validasi dan pujian manusia.

RRI.CO.ID, Jakarta – Pernah melakukan kebaikan lalu diam-diam berharap ada yang melihat, memuji, atau mengapresiasi? Perasaan seperti ini mungkin terasa sederhana, tetapi bisa menjadi bahan refleksi ketika dikaitkan dengan persoalan riya.

Laman Nuonline yang kami akses pada Senin, 24 Agustus 2026 menulis, riya secara bahasa berasal dari kata ra’a, yura’i, dan mura’atan yang bermakna memperlihatkan sesuatu agar dilihat orang lain. Secara istilah, riya merujuk pada perbuatan ibadah yang dilakukan dengan tujuan agar dilihat atau dipuji manusia.

Riya dapat muncul ketika seseorang melakukan kebaikan dengan harapan mendapatkan perhatian, pujian, atau pengakuan dari manusia, termasuk melalui aktivitas yang dibagikan di media sosial. Persoalan tersebut dibahas dalam program siaran Mutiara Pagi di radio 91,2FM Pro1 RRI Jakarta pada Minggu, 23 Agustus 2026, melalui tema “Ketika Validasi Manusia Lebih Dicari daripada Ridha Allah: Kajian Tafsir Tematik Ayat-Ayat Riya”.

Hadir sebagai narasumber dalam program tersebut, Yusnelma Eka Afri dari Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan DPW WAZIN Bengkulu, organisasi perempuan alumni Al-Azhar Mesir. Yusnelma yang juga merupakan Kepala Program Studi Ilmu Al-Qur’an Tafsir UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu menjelaskan bahwa riya tidak selalu muncul dalam bentuk keinginan untuk dipuji secara terang-terangan.

“Ketika seseorang lebih mencari penilaian manusia daripada ridha Allah, kita perlu kembali melihat niat. Sebab, kebaikan yang dilakukan seharusnya berorientasi kepada Allah, bukan semata-mata untuk mendapatkan pengakuan,” ujar Yusnelma.

Berikut lima tanda riya yang sering tidak sadari, termasuk di media sosial:

Ilustrasi orang menggunakan telepon pintar dan media sosial (Foto: cottonbro studio/pexels)
1. Seseorang mulai mengukur kebaikan dari pujian

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah munculnya rasa senang berlebihan ketika amal atau kebaikan mendapatkan pujian. Sebaliknya, seseorang dapat merasa kecewa, sedih, atau kehilangan semangat ketika perbuatannya tidak mendapatkan perhatian dari orang lain.

Dalam materi yang dimuat NU Online, riya dijelaskan sebagai persoalan yang berkaitan dengan keinginan memperoleh posisi dalam hati manusia melalui perbuatan baik. Penjelasan tersebut mengutip Imam Al-Ghazali yang menerangkan bahwa akar riya berkaitan dengan kecintaan terhadap pujian dan keinginan agar manusia menerima serta menghormati seseorang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar apakah seseorang mendapatkan pujian atau tidak. Hal yang perlu diperiksa adalah apakah pujian manusia mulai menjadi tujuan dari amal yang dilakukan.

Ilustrasi orang sedang berdoa di masjid (Foto: Sandi Yudha/pexels)
2. Semangat berbuat baik berubah saat ada orang

Tanda lain dapat terlihat ketika seseorang menunjukkan semangat berbuat baik yang berbeda ketika berada di hadapan orang lain. Misalnya, seseorang lebih bersemangat melakukan ibadah, membantu orang, atau memperlihatkan kesalehan ketika mengetahui ada pihak yang memperhatikan.

Riya juga dapat muncul secara tersembunyi tanpa disadari oleh pelakunya. NU Online mengutip pandangan Ibnu Athaillah bahwa keinginan agar manusia mengetahui kekhususan ibadah seseorang dapat menjadi tanda adanya persoalan dalam keikhlasan.

Karena itu, seseorang perlu melihat kembali apakah kebaikan tersebut tetap akan dilakukan ketika tidak ada orang yang mengetahui. Pertanyaan sederhana itu dapat menjadi cara untuk melakukan evaluasi terhadap niat tanpa harus langsung menuduh diri sendiri telah melakukan riya.

3. Amal baik mulai dikaitkan dengan media sosial

Media sosial membuat aktivitas pribadi dapat diketahui banyak orang dalam waktu singkat. Kondisi tersebut juga membuat kegiatan ibadah, sedekah, kerja sosial, atau aktivitas keagamaan lebih mudah didokumentasikan dan dibagikan kepada publik.

“Media sosial membuat apa yang kita lakukan semakin mudah diketahui orang lain. Karena itu, kita perlu lebih berhati-hati menjaga niat. Jangan sampai kebaikan yang awalnya dilakukan karena Allah justru berubah menjadi keinginan untuk mendapatkan validasi manusia,” kata Yusnelma.

Namun, mengunggah kegiatan baik tidak otomatis berarti seseorang melakukan riya. NU Online menjelaskan bahwa persoalan tersebut perlu dilihat dari niat dan tujuan, karena menampilkan amal dapat saja dilakukan untuk memberi teladan atau mendorong orang lain melakukan kebaikan.

Masalah muncul ketika perhatian manusia menjadi tujuan utama. Jumlah suka, komentar, jumlah pengikut, atau pujian yang diterima kemudian menjadi ukuran kepuasan atas amal yang telah dilakukan.

Ilustrasi dua orang melakukan aksi donasi. (Foto: Antoni Shkraba /pexels)
4. Seseorang kecewa ketika kebaikannya tidak diketahui

Tanda berikutnya adalah munculnya rasa kecewa ketika kebaikan yang dilakukan tidak mendapatkan perhatian. Perasaan tersebut dapat menjadi bahan introspeksi jika seseorang merasa amalnya kurang berarti hanya karena tidak ada orang yang mengetahui atau mengapresiasinya.

Yusnelma mengingatkan bahwa apresiasi manusia bukan ukuran utama dari nilai sebuah amal. “Validasi manusia itu sifatnya sementara. Kalau kita menjadikan pujian sebagai ukuran, kita akan mudah kecewa ketika tidak mendapatkannya. Yang perlu kita cari adalah ridha Allah,” ucapnya.

5. Seseorang ingin terlihat saleh meski tidak disadari

Tanda terakhir dapat muncul dalam bentuk keinginan tersembunyi agar orang lain mengetahui amal yang sebenarnya dilakukan secara diam-diam. Seseorang mungkin tidak secara langsung menceritakan ibadahnya, tetapi dalam hati berharap suatu saat orang lain mengetahui dan memberikan penghargaan.

NU Online menjelaskan bahwa riya dapat muncul bahkan ketika seseorang merasa sudah menyembunyikan amalnya. Dalam penjelasan mengenai Al-Hikam, disebutkan bahwa seseorang dapat mengalami riya ketika berharap manusia mengetahui ibadah atau kebaikan yang sebenarnya dilakukan secara tersembunyi.

Karena itu, persoalan riya tidak dapat hanya diukur dari apakah sebuah amal ditampilkan atau disembunyikan. Yang lebih penting adalah arah niat dan apakah hati mulai bergantung pada pandangan manusia.

Yusnelma menegaskan bahwa menjaga keikhlasan bukan berarti seseorang harus menolak setiap bentuk apresiasi. “Menjaga keikhlasan bukan berarti kita tidak boleh menerima apresiasi. Yang terpenting adalah jangan menjadikan apresiasi itu sebagai tujuan utama. Kita perlu terus mengoreksi niat agar kebaikan tetap berada di jalan yang benar,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....