BKI Dorong Transformasi Pelayaran Rendah Emisi

  • 22 Agt 2026 15:17 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • BKI Dorong Transformasi Pelayaran Rendah Emisi

RRI. CO. ID, Jakarta — Upaya mendorong transformasi menuju pelayaran yang lebih rendah emisi terus diperkuat melalui Forum Diskusi dan Bimbingan Teknis Green Shipping 2026 yang mengangkat tema “Akselerasi Dekarbonisasi Pelayaran Domestik Indonesia melalui Efisiensi Energi, Bahan Bakar Rendah Karbon, dan Perhitungan Carbon Intensity Indicator (CII)”. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Rabu, 19 Agustus 2026, bertempat di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta.

Forum ini menjadi ruang strategis bagi para pemangku kepentingan sektor pelayaran untuk menyamakan perspektif, memperkuat kapasitas teknis, serta merumuskan langkah konkret dalam mendukung agenda dekarbonisasi pelayaran nasional. Hal ini semakin relevan seiring dengan arah kebijakan dan perkembangan IMO Net-Zero Framework yang menuntut sektor pelayaran untuk semakin siap dalam memahami, mengukur, dan mengelola emisi secara terstruktur.

Direktur Operasi Bisnis Klasifikasi PT BKI (Persero), Arief Budi Permana menegaskan “kami memandang dekarbonisasi perlu dilihat sebagai spektrum transisi. Biodiesel menjadi opsi yang paling siap dalam jangka pendek karena kompatibilitas mesin dan infrastruktur yang relatif tersedia, sementara e-methanol menjadi opsi menjanjikan untuk jangka menengah–panjang dengan potensi penurunan emisi well-to-wake yang jauh lebih besar, meski kesiapannya di Indonesia masih pada tahap awal. Di sinilah peran klasifikasi menjadi penting—melalui penyusunan rules dan class notation kapal berbahan bakar alternatif, kajian teknis dan risk assessment, serta verifikasi emisi dalam kerangka CII, EEXI, dan SEEMP—agar transisi berjalan aman dan terukur.” ujar Arief.

“Kami berharap forum hari ini dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kebijakan dengan kebutuhan industri, kesiapan teknologi dengan kesiapan energi, serta target dekarbonisasi bertahap yang sesuai dengan kemampuan implementasi di lapangan.” tambah Arief.

Dalam konteks tersebut, pengelolaan emisi sektor pelayaran tidak dapat hanya berfokus pada emisi yang dihasilkan saat bahan bakar digunakan di atas kapal. Penilaian perlu dilakukan secara lebih komprehensif melalui pendekatan Life Cycle Assessment (LCA), yang mempertimbangkan emisi sepanjang siklus hidup bahan bakar, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga penggunaannya di kapal.

Pendekatan tersebut menjadi penting dalam menentukan pilihan bahan bakar rendah karbon yang tepat bagi pelayaran domestik. Berbagai alternatif seperti biodiesel, Liquefied Natural Gas (LNG), metanol, dan amonia memiliki karakteristik emisi, tingkat kematangan teknologi, serta kesiapan rantai pasok yang berbeda. Oleh karena itu, setiap opsi perlu dinilai secara objektif dan berbasis data agar strategi transisi energi yang dikembangkan dapat diterapkan secara efektif dan berkelanjutan.

Selain aspek bahan bakar, efisiensi energi juga menjadi salah satu langkah penting dalam menekan intensitas emisi kapal. Penguatan pemahaman mengenai Carbon Intensity Indicator (CII) diharapkan dapat membantu pelaku industri dalam mengukur kinerja efisiensi karbon kapal, mengidentifikasi ruang perbaikan, serta menyusun langkah peningkatan kinerja yang lebih terukur.

Forum Diskusi dan Bimbingan Teknis Green Shipping 2026 juga menjadi bagian dari proses membangun roadmap dekarbonisasi pelayaran domestik Indonesia secara bertahap. Penyusunan roadmap tersebut perlu diawali dengan ketersediaan basis data yang memadai dan metodologi perhitungan yang kuat sebagai fondasi dalam menentukan kebijakan, target, serta strategi implementasi ke depan.

Melalui forum ini, peserta diharapkan dapat memberikan masukan berdasarkan pengalaman dan kebutuhan di lapangan, menyamakan pemahaman mengenai isu teknis dan kebijakan dekarbonisasi, sekaligus memperkuat kapasitas dalam penerapan efisiensi energi, bahan bakar rendah karbon, LCA, dan CII.

Adapun kegiatan ini diarahkan untuk menghasilkan beberapa keluaran utama, yaitu terjaringnya masukan dari para pemangku kepentingan, tercapainya kesamaan pandangan terkait arah dekarbonisasi pelayaran domestik, meningkatnya kapasitas teknis peserta, serta tersusunnya Minutes of Meeting (MoM) sebagai dokumentasi dan dasar tindak lanjut hasil pembahasan.

Dengan kolaborasi dan sinergi antarpemangku kepentingan, forum ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah konkret dalam mempercepat kesiapan sektor pelayaran domestik Indonesia menghadapi transisi menuju sistem transportasi laut yang lebih efisien, rendah karbon, berkelanjutan, dan future-ready.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....