Meneladani Akhlak Rasulullah, Kunci Menghadirkan Cinta dan Ketakwaan
- 22 Agt 2026 15:17 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Meneladani akhlak Rasulullah SAW dapat diwujudkan melalui kejujuran, amanah, kasih sayang, kesabaran, dan kepedulian kepada sesama.
- Keteladanan Rasulullah tetap relevan menghadapi tantangan kehidupan modern, termasuk dalam berkomunikasi dan bermedia sosial
- Momentum Maulid Nabi dapat menjadi ruang refleksi untuk menjadikan kecintaan kepada Rasulullah sebagai bagian dari perubahan perilaku sehari-hari.
RRI.CO.ID, Jakarta: Mencintai Rasulullah SAW bukan hanya tentang mengingat sejarah kehidupan beliau, tetapi juga bagaimana akhlaknya hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran, kasih sayang, kesabaran, dan kepedulian kepada sesama menjadi bagian dari keteladanan yang tetap relevan hingga saat ini.
Hal tersebut menjadi bahasan dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Jakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026, bersama Host Binda Umar, yang mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Menghiasi Kehidupan dengan Cinta dan Ketakwaan”. Program ini menghadirkan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Sawah Besar Jakarta Pusat, H. Ahmad Barmawi, S.Kom.I, M.Sos.
Menurut Ahmad Barmawi, kecintaan kepada Rasulullah seharusnya tidak berhenti pada ucapan, tetapi perlu dibuktikan melalui perilaku.
| Baca juga: Mengenal Hak Muslim Terhadap Muslim Lainnya |
“Kalau kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, maka salah satu buktinya adalah berusaha meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Cinta itu harus terlihat dalam sikap dan perbuatan kita,” ujar Ahmad Barmawi.
Ia menjelaskan, Rasulullah SAW merupakan teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari cara berkomunikasi, memperlakukan keluarga, berhubungan dengan masyarakat, hingga menghadapi persoalan dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan.
“Rasulullah mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi manusia yang baik, bukan hanya dalam hubungan dengan Allah, tetapi juga dalam hubungan dengan sesama manusia. Karena itu, akhlak menjadi bagian penting dari ketakwaan,” katanya.
Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, keteladanan tersebut dinilai semakin penting. Termasuk ketika masyarakat berinteraksi melalui media sosial yang memungkinkan seseorang menyampaikan pendapat dengan cepat, tetapi terkadang mengabaikan etika dan perasaan orang lain.
Menurut Ahmad Barmawi, meneladani Rasulullah dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga ucapan, tidak menyakiti orang lain, menghormati perbedaan, membantu sesama, dan menjaga hubungan baik dengan keluarga maupun lingkungan.
“Meneladani Rasulullah tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kita bisa memulainya dari menjaga lisan, berkata baik, menghormati orang lain, membantu ketika ada yang membutuhkan, dan menjaga hubungan silaturahmi,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa momentum Maulid Nabi sebaiknya menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.
“Jangan sampai kita hanya memperingati Maulid Nabi setiap tahun, tetapi akhlak kita tidak mengalami perubahan. Justru momentum ini harus menjadi pengingat untuk memperbaiki diri dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,” katanya.
Dengan meneladani akhlak Rasulullah, kecintaan kepada Nabi diharapkan tidak berhenti sebagai ungkapan hati, tetapi menjadi perilaku nyata yang membawa kebaikan bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
“Ketika akhlak Rasulullah kita hadirkan dalam kehidupan, insyaallah cinta kepada Rasulullah tidak hanya menjadi kata-kata, tetapi menjadi jalan untuk meningkatkan ketakwaan dan memberikan manfaat kepada orang lain,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....