Menepis Bahaya Nyata di Balik Tumpukan Kardus Olshop
- 19 Agt 2026 08:19 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Menepis Bahaya Nyata di Balik Tumpukan Kardus Olshop
RRI.CO.ID, Jakarta - Demam unboxing belanjaan daring kini memicu dilema tersendiri bagi anak muda urban saat tumpukan kardus mulai menggunung di sudut kamar. Kebiasaan mengumpulkan kemasan bekas dengan dalih antisipasi kebutuhan masa depan kerap berujung menjadi sarang debu serta sarang nyamuk yang mengganggu kenyamanan hidup. Isu yang kerap dianggap sepele ini mendadak ramai diperbincangkan dalam program siaran interaktif Radio Pro4 FM. Banyak pendengar dari berbagai kalangan saling bertukar pengalaman unik mengenai cara mereka menyiasati tumpukan sampah kemasan tersebut.
Salah satu pendengar asal Bogor, Bang Hasan, membagikan trik praktis dengan langsung menyalurkan kardus bekas kepada pemulung di sekitar rumahnya. “Nggak usah ditumpuk-tumpuk lah, begitu ada kardus langsung kasih ke pemulung aja,” kata Bang Hasan saat mengutarakan pendapatnya via telepon. Menurutnya, langkah cepat ini tidak hanya ampuh menjaga kesehatan hunian dari ancaman penyakit, tetapi juga menjadi sarana berbagi rezeki dengan para pekerja daur ulang. Pandangan lugas tersebut mendapat respons positif dari kalangan anak muda yang mengidamkan hunian tetap bersih dan lapang.
Senada dengan hal itu, Bang Aris dari Kalianyar juga rutin memilah kardus berukuran besar bekas kebutuhan rumah tangga untuk dibagikan kepada warga sekitar. “Daripada numpuk di rumah kita dan jadi sarang nyamuk, mending dikasih ke orang lain yang membutuhkan,” ungkap Bang Aris penuh semangat. Kebiasaan ini terbukti ampuh mencegah perselisihan keluarga akibat rumah yang berantakan sekaligus membantu kelancaran pemeriksaan jentik nyamuk oleh petugas kesehatan. Langkah sederhana ini menjadi solusi efektif agar hunian tidak berubah menjadi gudang barang tak terpakai.
Menariknya, para penganut gaya hidup minimalis kini menerapkan aturan main yang jauh lebih taktis dalam mengelola kardus bekas. Kardus barang elektronik bernilai tinggi umumnya tetap disimpan demi menjaga harga jual kembali (resale value) saat hendak dijual kelak. Sementara untuk kardus kemasan umum seperti sepatu atau pakaian, mereka memberlakukan batas simpan ketat maksimal dua hari sebelum dihibahkan. Cara rasional ini menjadi jalan tengah yang cerdas dalam mengimbangi perilaku konsumtif belanja daring masyarakat modern.
Fenomena menimbun barang tanpa fungsi nyata ini sebetulnya berkaitan erat dengan aspek psikologis dan rasa enggan kehilangan yang berlebihan. Oleh karena itu, anak muda diajak untuk lebih berani melakukan decluttering demi menciptakan ruang hidup yang estetik dan menenangkan pikiran. Budaya menyalurkan kardus ke pemulung juga turut menggerakkan roda ekonomi sirkular di lingkungan masyarakat secara berkelanjutan. Membebaskan sudut rumah dari tumpukan kardus bekas adalah langkah awal yang nyata untuk mewujudkan gaya hidup yang lebih tertata dan ramah lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....