Belanja Impulsif Pelarian Stres Era Modern
- 10 Agt 2026 12:17 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Belanja Impulsif Pelarian Stres Era Modern
RRI.CO.ID,Jakarta- Belanja impulsif menjadi kebiasaan modern ketika seseorang membeli barang secara spontan tanpa mempertimbangkan kebutuhan ataupun kemampuan finansial sendiri.
“Belanja impulsif adalah keputusan membeli yang muncul secara cepat dan spontan dengan pertimbangan yang minim , Orang melihat barang lalu tertarik dan merasa harus punya dan kemudian membeli . Baru setelah transaksi selesai muncul pertanyaan, sebenarnya buat apa saya beli ini”, Demikian ungkap Ustadz Nur Khayyin dalam Hikmah Pagi di RRI pro 4 Senin 10 Agustus 2026.
Ustaz Nurkhayin Muhdlor mengingatkan Islam membolehkan menikmati rezeki, tetapi konsumsi harus tetap dikendalikan oleh akal sehat dan syariat. Belanja dapat menjadi pelarian ketika seseorang menghadapi stres, kesepian, kecewa, marah, atau tekanan kehidupan berat.
“Masalahnya semakin besar ketika belanja menjadi cara mengelola emosi . Stress lalu belanja, senang sebentar, uang berkurang, menyesal, stress lagi, belanja lagi. Maka terbentuk lingkaran, stress, impuls, check out, kepuasan sesaat, penyesalan, masalah keuangan, stress baru “, Ujar Ustadz Nur Khayin dalam ceramahnya.
Islam ingin memutus lingkaran tersebut dengan sabar,bersyukur dengan mengendalikan hawa nafsu, dan pengelolaan harta yang benar, karena islam tidak melarang belanja, tapi melarang kehilangan kendali .
Seperti pendengar dari Bekasi yang bertanya Bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan ketika kondisi keuangan terbatas, tetapi barang tersebut terasa sangat diperlukan sehari-hari?
Ustaz Nurkhayin menjawab, kebutuhan memiliki fungsi jelas, sedangkan keinginan biasanya hanya menambah kenyamanan, kesenangan, kepuasan, atau gengsi seseorang.
Lalu berikutnya Pertanyaan pendengar dari Jakarta timur Bagaimana penggunaan paylater untuk memenuhi kebutuhan ketika belum memiliki dana, meskipun terdapat tambahan biaya pembayaran tertentu? Ustaz Nurkhayin menjelaskan keputusan finansial sebaiknya tidak dilakukan ketika emosi tinggi, terutama apabila pembelian berpotensi menambah utang baru.
Menurutnya, langkah sederhana ialah memasukkan barang ke keranjang, menunda pembayaran, kemudian mengevaluasi kembali apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.
Islam mengajarkan prinsip wasathiyah atau keseimbangan, sehingga seseorang boleh menikmati rezeki tanpa berlebihan dan tidak pula bersikap kikir.
Ustaz Nurkhayin menegaskan, kekayaan sejati bukan sekadar banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa yang menghadirkan ketenangan dan rasa cukup.
Karena itu, masyarakat disarankan mengatasi stres melalui cara positif seperti bersyukur, berzikir, berdoa, serta mengendalikan hawa nafsu diri.
Ia berpesan agar harta tetap berada di tangan, bukan menguasai hati, sehingga setiap rupiah menjadi jalan menuju keberkahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....