Peran Ibu Bentuk Nurani Anak Dimulai sejak Dalam Kandungan
- 03 Agt 2026 14:26 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Pembentukan karakter anak tidak hanya ditentukan oleh pendidikan formal atau prestasi akademik. Dalam pandangan Islam, pembentukan nurani yang menjadi penuntun seseorang membedakan benar dan salah justru dimulai dari keluarga, terutama melalui peran ibu sejak masa kehamilan.
Pembentukan nurani anak menjadi salah satu fondasi utama dalam pendidikan Islam yang sering kali luput dari perhatian. Di tengah dorongan agar anak berprestasi secara akademik, pembentukan hati yang memiliki rasa takut kepada Allah, empati, dan kejujuran justru menjadi bekal yang menentukan kualitas seseorang ketika dewasa.
Hal tersebut disampaikan Ustaz Nur Khaiyin dalam program siaran radio Pro4 RRI Jakarta "Hikmah Pagi" pada Senin, 3 Agustus 2026 yang mengulas pentingnya keluarga membangun karakter anak berdasarkan ajaran Islam. Ia menjelaskan bahwa pendidikan nurani tidak dimulai ketika anak memasuki sekolah, tetapi sejak masih berada di dalam kandungan melalui doa, ibadah, ketenangan, serta kedekatan emosional seorang ibu.
"Ketika anak menjadi dokter, profesor, pejabat, pengusaha, atau tokoh besar. Tapi apakah ia mempunyai hati yang takut menyakiti orang? Apakah ketika memiliki kekuasaan ia tidak zalim? Apakah ketika memiliki uang ia tidak mengambil hak orang? Apakah ketika tidak ada manusia yang melihat, ia sadar bahwa Allah melihat? Itulah nurani. Pendidikan nurani dimulai dari tauhid," ujar Ustaz Nur Khaiyin.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak semata diukur dari gelar ataupun profesi yang diraih anak. Yang lebih penting adalah hadirnya kesadaran moral yang membuat seseorang tetap jujur, adil, dan bertanggung jawab meskipun tidak diawasi orang lain. Dalam perspektif tersebut, tauhid menjadi dasar yang membentuk hati agar selalu merasa berada dalam pengawasan Allah.
Laman NU Online yang kami akses pada Senin, 3 Agustus 2026 juga mengolas pendidikan akhlak anak. Dalam artikel berjudul Peran Ayah dalam Pendidikan Akhlak Anak, dijelaskan bahwa pendidikan moral merupakan kumpulan nilai yang harus ditanamkan sejak usia dini agar menjadi kebiasaan yang melekat hingga anak dewasa. Akhlak yang baik, menurut kajian itu, tumbuh dari keimanan yang kuat sehingga menjadi benteng terhadap perilaku buruk dan penyimpangan moral.
NU Online juga mengutip pandangan ulama pendidikan Islam, Abdullah Nashih Ulwan, dalam kitab Tarbiyyatul Aulad fil Islam, yang menegaskan bahwa pendidikan akhlak merupakan tanggung jawab utama kedua orang tua. Anak dibiasakan berlaku jujur, amanah, menghormati orang lain, membantu sesama, menjaga tutur kata, serta menjauhi kebiasaan yang merendahkan martabat dirinya.
Ustaz Nur Khaiyin mengatakan ibu memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi sosok pertama yang membangun ikatan emosional dengan anak. Ia menilai keteladanan sehari-hari lebih efektif daripada sekadar nasihat, sebab anak belajar melalui apa yang dilihat dan dirasakan di lingkungan keluarganya.
"Anak belajar dari contoh yang diberikan orang tuanya. Karena itu, pendidikan terbaik bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui sikap, kelembutan, dan kebiasaan yang mereka saksikan setiap hari," ucap Ustaz Nur Khaiyin.
Ia juga mengingatkan bahwa ibu yang bekerja tetap dapat membangun kedekatan emosional dengan anak selama mampu menghadirkan komunikasi yang berkualitas. Kehadiran yang penuh perhatian, kasih sayang, dan konsistensi dalam mendidik dinilai lebih berpengaruh dibandingkan lamanya waktu bersama anak.
Lingkungan yang kurang kondusif, menurut Ustaz Nur Khaiyin, bukan menjadi penentu mutlak rusaknya karakter anak. Orang tua tetap memiliki ruang besar untuk membangun benteng moral melalui pendidikan agama, pembiasaan akhlak, serta dialog yang membantu anak memahami bahwa tidak semua perilaku di lingkungan sekitarnya layak ditiru.
Orang tua perlu menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah. Anak harus memahami bahwa tidak semua kebiasaan di lingkungan dapat dijadikan teladan apabila bertentangan dengan ajaran Islam," kata Ustaz Nur Khaiyin.
Di akhir kajian, ia mengajak para ibu memperbanyak doa yang bersumber dari Al-Qur'an dan sunah Rasulullah serta mengiringinya dengan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut memperkuat pandangan bahwa pendidikan karakter bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, melainkan membentuk hati yang berlandaskan iman sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, sebagaimana juga ditekankan dalam kajian NU Online tentang pentingnya pendidikan akhlak sejak usia dini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....