Tawa di Atas Kamar 3x2: Kisah Warga Menantang Pengapnya Kampung Bandan

  • 26 Jul 2026 21:36 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Di sela-sela padatnya kawasan Kampung Bandan, Jakarta Utara, ada kehidupan yang terus berdenyut di dalam kamar berukuran 3 x 2 meter. Di ruang yang terbilang mungil itulah, Pak Dedi (42), seorang pria kelahiran Jakarta dengan garis keturunan Padang, merajut cerita hidupnya bersama istri dan seorang anaknya.

Sebagai seorang kurir yang sehari-hari bertugas mengantar barang di kawasan Harco, Mangga Dua, Pak Dedi sengaja memilih tinggal di pemukiman padat ini. Alasannya sederhana namun mendasar bagi seorang kepala keluarga dengan penghasilan yang tak menentu: kebebasan dan efisiensi.

"Dulu awalnya saya kerja di Harco. Karena saya orangnya enggak mau terkekang dan pengen bebas, akhirnya mutusin buat ngontrak di sini," ujar Dedi dengan nada santai kepada RRI Jakarta, Minggu 26 Juli 2026.

Pilihan itu terbukti memangkas biaya hidupnya. Dengan tinggal di dekat tempat kerja, ia tak perlu lagi memikirkan ongkos transportasi harian cukup dengan berjalan kaki, ia sudah bisa menjemput rezeki.

Namun, hidup di kawasan semi-permanen ini menuntut kompromi yang besar terhadap kenyamanan. Kontrakan yang ia huni berada di lantai atas bersama empat kamar lainnya. Dari tahun ke tahun, harga sewa kamar terus merangkak naik. Dari semula Rp250.000, kemudian menjadi Rp350.000, hingga kini menyentuh angka Rp450.000 per bulan. Nilai yang cukup membebani, terlebih di tengah tuntutan kebutuhan susu anak dan biaya sekolah yang semakin mendesak.

Tantangan hidup di tempat ini tidaklah main-main. Ketika matahari Jakarta sedang terik-teriknya, hawa panas menyengat langsung ke dalam kamarnya yang sempit. Tak hanya itu, ketiadaan fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di dalam kamar memaksanya harus berbagi ruang dengan warga lain di fasilitas umum yang berjarak sekitar 100 meter.

"Paling repot kalau malam-malam kebelet atau sakit perut. Harus turun tangga dan jalan ke MCK umum yang buka 24 jam," ceritanya sambil terkekeh. Setiap kali menggunakan fasilitas tersebut, ia harus merogoh kocek Rp2.000.

"Kalau sehari sakit perut sampai lima kali, ya lumayan juga pengeluarannya," kelakarnya menghibur diri. Bagi Dedi, mencari kontrakan dengan kamar mandi di dalam dengan anggaran terbatas di Jakarta adalah hal yang mustahil.

Selain pengap dan masalah sanitasi, ancaman lain yang kerap menghantui adalah banjir dan kebakaran. Meski kamarnya yang berada di lantai atas aman dari terjangan air, genangan banjir di lantai bawah tetap melumpuhkan aktivitasnya. Bayang-bayang kebakaran hebat yang pernah melanda kawasan tetangga beberapa tahun silam pun terkadang menyelisik rasa was-was di benaknya.

Kendati dikepung berbagai keterbatasan, Dedi mengaku ikatan emosional dan keramahan lingkungan sekitarnya membuat ia tetap bertahan. "Kalau ditanya nyaman, saya sudah nyaman di sini. Tapi kalau nanti ada rezeki lebih dan istri merasa kurang nyaman, insya Allah ada keinginan cari tempat yang lebih sehat," ungkapnya penuh harapan.

Bagi Pak Dedi, kamar 3 x 2 meter itu bukan sekadar tempat berteduh dari hujan dan panas. Tempat itu adalah saksi bisu tumbuh kembang anaknya sejak bayi, sekaligus simbol ketabahan seorang ayah yang terus melangkah maju demi masa depan keluarga, di bawah langit Kampung Bandan yang tak pernah ingkar menantang zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....