Hari Anak Nasional: Anak Hebat Berawal dari Keluarga yang Hangat

  • 23 Jul 2026 18:33 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Kehangatan keluarga menjadi fondasi utama dalam membentuk anak yang hebat secara karakter maupun kesehatan mental. Hubungan emosional yang terjalin sejak dini dinilai berperan besar dalam mendukung tumbuh kembang anak hingga dewasa.

Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Aully Grashinta mengatakan, keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk kepribadian anak. Menurutnya, kelekatan antara orang tua dan anak telah lama terbukti menjadi faktor penting dalam perkembangan emosional maupun kecerdasan.

"Bagaimanapun keluarga adalah agen utama bagi pengembangan kepribadian anak, pengembangan kecerdasan, dan kehidupan anak," kata Aully dalam wawancara bersama Pro 1 RRI Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.

Aully menjelaskan kehangatan keluarga tidak selalu diukur dari lamanya waktu yang dihabiskan bersama anak. Yang jauh lebih penting adalah keterlibatan emosional atau emotional involvement dalam setiap interaksi antara orang tua dan anak.

Ia menuturkan orang tua dapat berada bersama anak sepanjang hari, tetapi hubungan tersebut belum tentu bermakna apabila tidak disertai perhatian terhadap kondisi emosional anak. Sebaliknya, interaksi yang penuh empati mampu membangun rasa aman dan memperkuat ikatan emosional di dalam keluarga.

"Yang paling penting adalah emotional involvement, di mana anak merasakan adanya keterikatan secara emosional dan merasa dipahami ketika mengalami berbagai emosi," ujarnya.

Menurut Aully, salah satu kebiasaan sederhana yang dapat mempererat hubungan orang tua dan anak adalah makan bersama tanpa gangguan gawai. Momen tersebut menjadi kesempatan bagi seluruh anggota keluarga untuk saling mendengarkan dan membangun komunikasi yang lebih hangat.

Ia mengingatkan penggunaan gawai saat makan bersama justru dapat menghilangkan kesempatan berinteraksi secara langsung. Akibatnya, anak kehilangan ruang untuk mengenali emosinya maupun memahami perasaan orang-orang di sekitarnya.

Dirinya menilai minimnya kelekatan emosional berpotensi memengaruhi kesehatan mental anak. Anak yang tidak terbiasa mengenali dan mengelola emosinya berisiko lebih mudah merasa sedih, kehilangan kepercayaan diri, bersikap agresif, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kesepahaman antara ayah dan ibu dalam menerapkan pola asuh di rumah. Menurutnya, keluarga perlu memiliki visi, misi, serta aturan yang disepakati bersama agar anak memperoleh teladan dan batasan yang jelas.

Sebagai penutup, Auli mengajak seluruh orang tua untuk lebih banyak membangun aktivitas bersama tanpa gawai dan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. "Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang dilakukan orang tuanya daripada apa yang dikatakan, sehingga rasa disayangi dan dicintai menjadi kunci utama perkembangan kepribadian anak," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....