Kancil yang Terhimpit Zaman: Suara Hati Supir Tua di Tengah Jakarta
- 21 Jul 2026 16:45 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jakarta yang kian modern, suara mesin kancil mungil itu masih terdengar menderu tipis. Di balik kemudinya, duduk Pak Sukardi. Pria asal Jawa Tengah berusia 56 tahun itu menyusuri rute Pademangan Kota dengan cermat, membelah jalanan yang saban hari disesaki kendaraan.
Sudah tiga tahun belakangan Pak Sukardi menggantungkan hidupnya pada kemudi kancil. Sebelum roda kancil menjadi tumpuan rezekinya, ia adalah seorang buruh pabrik. Namun, memasuki masa pensiun, ia tak bisa begitu saja berdiam diri di rumah.
"Pensiun, terus ya jadi supir kancil. Biar ada kegiatan. Kalau enggak jalan, mau kerja apa lagi? Usia sudah lanjut, sudah tua," tuturnya dengan nada tenang namun menyisipkan realitas yang jujur kepada RRI Jakarta, Selasa 21 Juli 2026.
Bagi Pak Sukardi, berhenti bergerak bukanlah pilihan. Dapur di rumah harus tetap mengebul, apalagi ia masih memiliki tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga. Dari enam orang anaknya, dua di antaranya masih menempuh pendidikan sekolah, termasuk si bungsu yang baru berusia tiga setengah tahun. Perjuangan itu murni hadir dari rasa kasih seorang ayah yang ingin memastikan kebutuhan keluarganya tetap terpenuhi.
Namun, mengarungi rute harian bukanlah perkara mudah. Untuk bisa menarik kancil, Pak Sukardi harus menyetor biaya sewa kendaraan sebesar Rp120.000 per hari angka yang cukup besar untuk armada kecil. Belum lagi pengeluaran bensin sekitar Rp50.000 hingga Rp60.000 dari pagi hingga sore hari.
Dalam kondisi ramai, omzet kotor bisa mencapai Rp200.000 hingga Rp300.000. Dari sisa itulah Pak Sukardi membawa pulang rezeki bersih yang sering kali pas-pasan untuk dibawa ke rumah.
Tak hanya biaya operasional yang mencekik, hadirnya moda transportasi publik modern yang gratis atau bersubsidi seperti JakLingko turut menggerus pendapatan harian supir kancil. Banyak pelanggan setia mulai dari karyawan hingga warga lokal kini beralih ke transportasi umum tersebut.
"Betul banget itu, berdampak sekali. Ya karena sebagian penumpang yang biasa naik kancil sekarang pindah," ungkapnya diselingi tawa pasrah.
Meski persaingan kian ketat dan rutenya terbatas, Pak Sukardi tidak menyimpannya sebagai prasangka buruk. Ia tetap menaruh harapan sederhana pada pemerintah. Pria bernyali tangguh ini berharap adanya iklim persaingan yang sehat, atau bahkan perhatian bagi moda transportasi kecil seperti kancil baik melalui subsidi maupun integrasi layanan.
"Ya harapannya kalau bisa JakLingko bayar, biar saingannya sehat. Atau kalau bisa kancil ini juga disubsidi atau direkrut, biar dapat gaji UMR," selorohnya sambil tersenyum optimis.
Sore itu, kendaraan mungilnya kembali melaju menuju area Kota. Di atas jok kancil yang terus terguncang oleh ratanya aspal jalanan, Pak Sukardi terus menggenggam kemudi menjemput rezeki demi senyum anak-anaknya di rumah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....