Spot Tersembunyi BKT: Kisah Pemuda Ubah Tantangan Menjadi Peluang Pasokan Pakan

  • 14 Jul 2026 08:21 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Sebelum matahari menampakkan wujudnya di ufuk timur, Luthfi Nugroho (38) dan rekannya, Ahmad Hanafi (45), sudah bersiap di tepian Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Di saat sebagian besar warga ibu kota masih terlelap, kedua pria ini justru memulai petualangan harian mereka sebagai pengayak atau pencari cacing sutra. Bagi mereka, waktu adalah segalanya, dan alam telah menetapkan jadwalnya sendiri yang tidak bisa ditawar.

Menyelami profesi sebagai pencari cacing sutra di BKT membutuhkan keahlian dan pemahaman mendalam tentang karakter sungai. Luthfi menjelaskan bahwa tidak semua sudut di sepanjang aliran BKT menyimpan cacing sutra. Jam terbang dan pengalaman bertahun-tahunlah yang menuntun mereka untuk mengetahui titik-titik atau spot potensial secara akurat.

"Ada spot-spot yang memang biasanya terdapat cacing sutra. Karena kita sudah terbiasa mencari, jadi kita sudah memahami di mana lokasi yang ada," ungkap Luthfi kepada RRI Jakarta, Senin 13 Juli 2026.

Berkejaran dengan Terik Matahari

Siklus hidup cacing sutra sangat dipengaruhi oleh suhu air dan sinar matahari. Itulah alasan mengapa Luthfi dan Hanafi harus turun ke sungai sejak pagi buta. Pada waktu-waktu tersebut, cacing sutra cenderung naik dan berkumpul di atas permukaan lumpur, sehingga lebih mudah untuk ditangkap.

Namun, jendela waktu emas itu sangatlah terbatas. Ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 08.00 hingga 10.00 siang, di saat matahari mulai beranjak naik dan cuaca kian terik, perilaku cacing-cacing tersebut langsung berubah.

"Dia akan mulai umpet (sembunyi), mulai terbenam lagi ke dalam lumpur. Jadi sudah mulai tidak terlihat," jelas Luthfi. Jika sudah begitu, perburuan sesi pagi harus dihentikan. Mereka baru bisa kembali turun ke sungai pada sore hari selepas waktu Asar, saat pencahayaan mulai redup dan suhu air kembali mendingin.

Berawal dari Hobi, Bertahan di Tengah Kemarau

Bagi Luthfi, keterlibatannya dalam profesi ini bermula dari ketidaksengajaan. Sebagai seorang pencinta budidaya ikan air tawar, ia kerap kesulitan mendapatkan pasokan pakan alami untuk ikan-ikannya. Tingginya persaingan di antara para peternak memaksa Luthfi untuk memutar otak dan belajar mencari cacing sutra sendiri langsung dari alam demi menekan biaya operasional. Siapa sangka, aktivitas yang awalnya didasari oleh kebutuhan pribadi itu kini terus digelutinya hingga sekarang.

Meski terlihat sederhana, tantangan terbesar para pemburu cacing sutra ini justru datang saat musim kemarau tiba. Di satu sisi, permintaan pakan dari para peternak ikan sedang tinggi-tingginya. Namun di sisi lain, alam justru sedang tidak bersahabat.

Saat musim kemarau, debit air di Sungai BKT menurun drastis yang berdampak langsung pada penurunan kualitas air sungai. Kondisi ini membuat cacing sutra menjadi sangat sulit ditemukan. Perubahan ini pun memangkas produktivitas kerja mereka secara signifikan.

"Yang biasanya kita dapat dengan mudah 1 jam bisa dapat kurang lebih 10 sampai 15 liter, saat musim kemarau ini kita agak sedikit berjuang. Mencari 10 liter aja mungkin harus butuh waktu 3 sampai 4 jam saat ini," tutur Luthfi mengakhiri pembicaraan.

Meskipun harus menghabiskan waktu berkali-kali lipat lebih lama di bawah sengatan matahari, Luthfi dan Hanafi tetap bertahan. Bagi mereka, setiap liter cacing sutra yang berhasil diangkat dari dasar lumpur BKT adalah urat nadi yang menjaga usaha budidaya mereka dan kelangsungan hidup keluarga tetap berputar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....