Warga Rorotan Keluhkan Polusi Pembakaran Sampah Limbah dan Kabel

  • 10 Jul 2026 09:48 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, Jakarta — Pukul dua belas lewat, langit Rorotan seperti diselimuti kabut tipis. Tapi bukan embun pagi yang meneduhkan — ini asap pembakaran sampah yang mengepul dari gudang-gudang di sekitar permukiman.

"Sekarang udah mulai lagi," ujar Udin warga Rorotan kepada RRI Jakarta, Kamis 9 Juli 2026.

Ia menggambarkan, asap yang menyelimuti wilayahnya bukan lagi cerita baru. Hampir setiap malam, terutama setelah pukul sepuluh, bau anyir hasil pembakaran sampah kabel menyengat ke rumah-rumah warga.

"Biasanya di atas jam sepuluh. Itu baunya nyengat, kalau kabel itu? Kerasa banget, baunya nyengat," keluhnya.

Yang paling parah, lanjutnya, adalah asap hitam pekat dari pembakaran kabel. Beda dengan sampah rumah tangga yang umumnya mengepulkan asap putih, kabel yang dibakar mengeluarkan polutan yang lebih berat dan bertahan lebih lama di udara.

Rindu Udara Bersih

Udin melontarkan perumpamaan yang bikin miris: tinggal di Rorotan saat ini rasanya "seperti tinggal di Jakarta rasa Bogor."

"Bedanya, kalau di Bogor itu kabut, kalau di Jakarta itu asep. Di Rorotan, tuh, asep. Asepnya memang bumbu tinggi. Kelihatannya," ujarnya sambil menunjuk asap yang tampak menggantung di langit siang itu.

Sudah Tiga Kali Lapor, Tetap Saja Saja

Menurut Udin yang lebih menyakitkan, warga bukan diam. Mereka sudah berulang kali menyuarakan keluhan, baik secara personal maupun lewat jalur formal.

"Pernah beberapa kali lewat JAKI. Kalau secara protes, secara institusi, kita lapor RT, LMK, atau RW. Tapi mereka saja nggak peduli. Jadi langsung ke JAKI, " kata Udin.

Ia menghitung, sudah tiga kali ia melapor baik melalui aplikasi Jakarta Kini (JAKI) maupun langsung ke kelurahan namun praktik pembakaran sampah di gudang-gudang sekitar tak pernah benar-benar berhenti.

"Tiga kali gua ngelapor. Kalau sudah beberapa bulan, mereka mulai lagi. Tetap saja ada lagi, ada lagi. Sekarang udah mulai lagi." keluh Udin.

Tanda Tanya untuk Penegakan

Cerita warga ini memunculkan tanya besar: bagaimana praktik pembakaran sampah, apalagi sampah kabel yang jelas mengandung bahan kimia berbahaya, bisa terus berlangsung di tengah Jakarta yang mengklaim dirinya kota modern dan berkelanjutan?

Kabel yang dibakar di ruang terbuka tanpa filter jelas melanggar sejumlah aturan lingkungan. Namun dari sisi warga, yang terjadi adalah: laporan masuk, keluhan didengar sebentar, lalu praktik berjalan kembali seperti semula.

Sabar yang Menipis

Rorotan hari ini adalah potret kecil dari dilema perkotaan: di mana hak warga atas udara bersih harus bersaing dengan aktivitas ekonomi informal yang tak tersentuh regulasi dan birokrasi yang, dari sudut pandang warga, hanya mendengar tanpa bertindak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....