Warga Rorotan, 5 Tahun Gagal Jual Rumah karena Polusi dan Debu Kontainer

  • 10 Jul 2026 12:27 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, Jakarta — Tawa kecil sesekali menyelip di antara keluh kesah. Tapi di balik kalimat-kalimatnya, tersimpan kepedihan yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Pak Lepi (nama samaran), warga yang tinggal di kawasan yang dulu persawahan hijau, kini harus menerima kenyataan: rumahnya tidak laku-laku dijual selama lima tahun, jalan di depan digetarkan truk-truk kontainer bermuatan lebih, dan setiap keluar pintu wajib mengenakan masker.

"Ini kan wilayah persawahan dulunya. Nah, biasanya persawahan itu langsung diuruk sama pemiliknya, dijadikan garasi atau pergudangan," kenang Pak Lepi, menceritakan bagaimana lanskap kampungnya berubah perlahan kepada RRI Jakarta, Kamis 9 Juli 2026.

Lima Tahun Tidak Laku, Ingin Pindah tapi Tak Mampu

Bagian paling menyakitkan dari cerita ini bukan sekadar tetangga atau suasana. Pak Lepi dengan jujur mengakui: ia sebenarnya ingin pergi dari Rorotan.

"Kalau dibilang sedih sih sedih. Sebenernya kalau kita ada rezeki, kalau bisa kita pasti pindah lagi. Kalau ada rezeki, pasti saya akan pindah dari Rorotan especially ke tempat yang lebih enak, yang masih lebih asri."

Tapi mimpi itu kandas di tengah himpitan ekonomi. "Cuma kan permasalahannya sekarang ekonomi juga lagi agak melemah. Saya mau jual rumah aja udah lama, belum laku-laku." Rumah itu sudah lima tahun ditawarkan, tapi tidak ada pembeli. "Salah satunya ya karena faktor itu (debu dan polusi)." ujarnya.

"Saya pribadi ya kalau saya ada rezeki, mendingan ngalah. Saya akan pindah, mengalah, ke tempat yang lebih baik." ungkapnya.

Getaran Truk, Napas Tersengal, dan Debu yang Tak Lagi Terlihat Tapi Mematikan

Bukan hanya debu yang menumpuk. Truk-truk kontainer yang melintas dengan muatan berlebih membuat rumah-rumah warga ikut bergetar.

Dampaknya langsung terasa di tubuh. Batuk, sesak napas, dan ISPA menjadi keluhan sehari-hari, terutama bagi mereka yang tinggal di pinggir jalan.

"Kalau kita lagi duduk di pinggiran jalan, udah pasti harus pakai masker. Saya biasanya kalau jalan pasti pakai masker. Karena kalau nggak, udah kerasa banget di sini nggak enak di tenggorokan," tutur Pak Lepi.

Debu, lanjutnya, justru lebih berbahaya karena tidak terlihat. "Kalau kita hirup udah lama-lama, bisa batuk, bisa macem-macem. Bisa ISPA." terangnya.

Warga Versus Oligarki: "Pemkot Saja Belum Tentu Mampu Melawan"

Harapan untuk mengembalikan Rorotan seperti dulu area persawahan asri nyaris pupus. Pak Lepi menilai, kekuatan ekonomi yang bermain di balik maraknya depo kontainer jauh lebih besar dari kemampuan pemerintah kota.

"Ya, sebagai warga, yang pasti sih pengen fungsinya dikembalikan seperti dulu. Tapi apalah daya kita, pemerintah setingkat lurah atau kecamatan saja mereka belum tentu mampu untuk bisa ngelawan yang namanya oligarki." terangnya.

Saat disinggung soal ancaman proyek vertikal rusun dan pembangunan lain yang terus mengikis sawah di Rorotan, Pak Lepi hanya bisa menarik napas.

Sementara Kepala Suku Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (Sudin Citata) Jakarta Utara Herry Priyatno menjelaskan bahwa dari hasil kajian kawasan Rorotan memang diperuntukkan untuk zona pemukiman.

"Hasil kajian identifikasi parkir kendaraan berat di Jalan Rorotan-Marunda terdapat 6 lokasi terindenfikasi sebagai parkir kendaraan berat yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang (pergub DKI Jakarta No. 31 Tahun 2022), " ujar Herry.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....