UMB Kolaborasi Bersama SEO, Gelar Forum Diskusi Inspiratif "Aware or Controlled?"
- 05 Jul 2026 15:19 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Di tengah derasnya arus transformasi digital dan perubahan dunia kerja, Generasi Z kerap disebut sebagai generasi yang paling siap menghadapi masa depan. Namun, bagi Dya Loretta, SE., MM., M.IKom., PhD.C, seorang dosen, konsultan komunikasi, sekaligus sociopreneur, masa depan bukan hanya tentang siapa yang paling cepat beradaptasi, tetapi siapa yang mendapat kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkarya.
Pesan itulah yang dibawanya dalam Gen Z Speaks: "Aware or Controlled?", sebuah forum inspiratif yang diselenggarakan Universitas Mercu Buana (UMB) bersama Spectaumb Event Organizer (SEO), di Swissôtel Jakarta PIK Avenue pada Sabtu, 04 Juli 2026.
Bersama sejumlah tokoh muda nasional seperti rapper JFlow, komika Pandji Pragiwaksono, founder Distrik Berisik Rian Fahardhi, serta dimoderatori Dr. Gadis Octory, Dya Loretta hadir bukan sekadar sebagai pembicara, tetapi sebagai representasi bahwa perubahan sosial dimulai dari keberanian membuka ruang bagi semua.
Kesempatan Tidak Mengenal Kondisi Fisik.
Di atas panggung, Dya Loretta mengajak peserta melihat Generasi Z dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, dunia saat ini telah membuka peluang di hampir seluruh sektor industri, mulai dari ekonomi kreatif, teknologi digital, kewirausahaan sosial, industri komunikasi, hingga dunia olahraga dan seni.
Namun, peluang tersebut hanya akan bermakna apabila dapat diakses oleh semua generasi muda tanpa terkecuali.
"Generasi Z memiliki kesempatan yang luar biasa untuk berkarya. Yang perlu kita pastikan adalah kesempatan itu dapat diakses secara setara dan inklusif, termasuk bagi teman-teman penyandang disabilitas. Inklusivitas bukan tentang memberi belas kasihan, tetapi memberikan ruang agar setiap orang dapat menunjukkan potensinya," ujar Dya Loretta.
Sebagai Ketua Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) dan pegiat pemberdayaan kelompok rentan, Dya percaya bahwa keberagaman justru menjadi kekuatan baru dalam membangun Indonesia yang lebih maju. Dalam rangkaian Gen Z Speaks, ia juga mengajak sejumlah Generasi Z penyandang disabilitas yang telah membuktikan prestasi mereka di tingkat nasional untuk hadir dan menjadi bagian dari acara. Kehadiran mereka menjadi pesan kuat bahwa talenta tidak pernah dibatasi oleh kondisi fisik.
Di antara mereka adalah Nabil, mahasiswa Tuli yang berhasil meraih juara nasional Kompetisi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk penyandang disabilitas.
Ada pula Andre Genta, seorang psikolog, dosen, penyandang cerebral palsy, sekaligus atlet Hyrox yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi di dunia akademik maupun olahraga.
Semangat serupa ditunjukkan oleh Iin Nurjanah, atlet penyandang disabilitas daksa yang aktif memberdayakan pelaku UMKM melalui komunitas Difa Nusantara.
Sementara itu, Rania, mahasiswi penyandang daksa, hadir sebagai penulis muda yang terus menyuarakan semangat inklusi melalui karya-karyanya.
Panggung Gen Z Speaks juga menjadi ruang apresiasi bagi talenta-talenta muda lainnya seperti Alika, model dan penari dengan Down Syndrome, serta Namira, Jevon, dan Felice, Generasi Z penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD) yang menunjukkan bahwa kreativitas tidak mengenal batas.
"Anak-anak muda ini tidak hanya membutuhkan simpati. Mereka membutuhkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Ketika masyarakat melihat langsung karya dan prestasi mereka, stigma perlahan akan berubah menjadi penghargaan," kata Dya Loretta.
Sesuai dengan Tema "Aware or Controlled?" tidak hanya mengajak Generasi Z lebih bijak menghadapi media sosial dan perkembangan teknologi, tetapi juga mengajak mereka menjadi generasi yang memiliki kesadaran sosial.
Melalui dialog yang berlangsung interaktif, para pembicara membahas pentingnya membangun karakter, berpikir kritis, menjaga kesehatan mental, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, sekaligus membangun jejaring kolaborasi lintas profesi dan komunitas.
"Kesadaran sosial adalah kompetensi masa depan yang sama pentingnya dengan kemampuan digital. Jadi kemajuan teknologi harus diiringi dengan kemajuan cara berpikir. Kita tidak hanya membutuhkan Generasi Z yang cerdas secara digital, tetapi juga memiliki empati, mampu menghargai keberagaman, dan siap bekerja bersama siapa pun tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik," ungkap Dya Loretta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....