Sekolah Alternatif: saat Anak Tidak Dipaksa Menjadi Seragam
- 09 Jun 2026 09:53 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Setiap anak memiliki potensi dan cara belajar yang berbeda sehingga tidak bisa diseragamkan.
- Sekolah alternatif memberikan ruang bagi anak untuk mengenali minat, bakat, dan kemampuan dirinya.
- Pendekatan pendidikan yang berpusat pada potensi anak mendukung lahirnya generasi kreatif dan inovatif sesuai semangat Astacita.
RRI.CO.ID, Jakarta - Tidak semua anak tumbuh dengan cara yang sama. Ada yang cepat memahami pelajaran di kelas, ada yang justru bersinar saat menggambar, berkebun, bermain musik, atau membuat karya kreatif. Namun sayangnya, sistem pendidikan yang seragam sering kali membuat potensi unik anak tidak terlihat.
Berangkat dari kenyataan tersebut, Ridwan Manantik, Seniman sekaligus Founder Rumah Anak Bumi, berbagi pandangannya dalam program Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Jakarta bertema "Sekolah Alternatif: Cara Menemukan Potensi Anak".
Menurut Ridwan, setiap anak terlahir dengan bakat dan kecerdasan yang berbeda. Karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga membantu anak mengenali dirinya sendiri, menemukan minatnya, dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Ia menilai banyak orang tua masih mengukur keberhasilan anak dari prestasi akademik semata. Padahal, tidak sedikit anak yang justru memiliki kemampuan luar biasa di bidang seni, keterampilan, kepemimpinan, hingga kemampuan sosial yang sering luput dari perhatian.
"Ketika anak diberi ruang untuk bereksplorasi, mereka akan menemukan apa yang mereka sukai dan kuasai. Di situlah proses belajar menjadi lebih bermakna," kata Ridwan Manantik menjelaskan.
Konsep sekolah alternatif hadir sebagai salah satu pendekatan yang memberikan ruang lebih luas bagi anak untuk belajar sesuai karakter dan potensinya. Pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, kegiatan seni, permainan, hingga aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ridwan menjelaskan bahwa menemukan potensi anak bukanlah proses instan. Dibutuhkan kesabaran, pengamatan, dan dukungan dari keluarga maupun lingkungan. Anak perlu diberikan kesempatan untuk mencoba berbagai hal tanpa tekanan berlebihan agar dapat menemukan bidang yang benar-benar membuat mereka berkembang.
Dalam perspektif pembangunan sumber daya manusia, pendekatan ini sejalan dengan semangat Astacita, khususnya dalam menciptakan generasi yang unggul, kreatif, inovatif, dan memiliki karakter kuat. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak anak yang pandai mengerjakan soal, tetapi juga manusia yang mampu mengenali kelebihan dirinya dan berkontribusi bagi masyarakat.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, kemampuan beradaptasi, berpikir kreatif, dan mengenali potensi diri menjadi bekal yang tak kalah penting dibandingkan nilai rapor. Karena itu, sekolah alternatif menawarkan sebuah pengingat bahwa setiap anak memiliki jalan belajarnya sendiri.
Bisa jadi, anak yang hari ini dianggap biasa saja, sesungguhnya sedang menyimpan potensi luar biasa yang hanya menunggu kesempatan untuk tumbuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....