Kenapa Tanggal 11-13 Dzulhijjah Disebut Hari Tasyrik?

  • 29 Mei 2026 13:57 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Hari Tasyrik secara bahasa merujuk pada kata tasyriq yang artinya penghadapan ke arah timur (arah sinar matahari). Tetapi Hari Tasyrik biasanya merujuk pada tiga hari setelah Hari Nahar (10 Dzulhijah).

RRI.CO.ID, Jakarta – Banyak umat Islam mengenal Hari Tasyrik sebagai tiga hari setelah Idul Adha ketika takbir masih berkumandang dan daging kurban dibagikan. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa penamaan “tasyrik” ternyata berakar dari tradisi masyarakat Arab kuno menjemur daging kurban di bawah terik matahari.

Tradisi tersebut bukan sekadar kebiasaan teknis mengawetkan makanan, melainkan bagian dari kultur sosial dan ritual keagamaan yang kemudian diabadikan dalam istilah fikih Islam. Pada Idul Adha 1447 Hijriah atau tahun 2026, Hari Tasyrik berlangsung pada 28 hingga 30 Mei 2026.

Laman NU Online yang kami akses pada Jumat, 29 Mei 2926 menulis, Hari Tasyrik berasal dari kata tasyriq yang berarti menghadap ke arah timur atau arah datangnya sinar matahari. Dalam praktik masyarakat Arab masa lampau, istilah itu merujuk pada proses menghamparkan dan menjemur daging kurban agar menjadi dendeng sehingga dapat bertahan lebih lama.

Dalam artikel ini, Imam An-Nawawi menjelaskan masyarakat Arab dahulu mengeringkan daging kurban pada hari-hari setelah Idul Adha. Aktivitas itu kemudian melekat sebagai penanda khusus tiga hari setelah Hari Nahar atau 10 Zulhijah.

“Hari Tasyrik adalah sebutan bagi tiga hari setelah hari nahar. Tiga hari itu dinamai demikian karena orang-orang menjemur daging kurban pada waktu tersebut,” tulis Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim.

Penjelasan serupa juga dikemukakan ulama hadis Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari. Ia menyebut istilah tasyrik berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat mendendeng daging kurban di bawah panas matahari.

Ibnu Hajar mencatat, sebagian ulama memiliki penafsiran berbeda mengenai asal-usul istilah tersebut. Sebagian menyebut tasyrik berasal dari waktu penyembelihan hewan kurban yang dilakukan setelah matahari terbit dan memancarkan cahaya.

“Sebagian ulama mengatakan Hari Tasyrik dinamai demikian karena hewan kurban tidak disembelih kecuali setelah matahari memancarkan sinarnya,” tulis Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari.

Perbedaan tafsir itu menunjukkan bahwa Hari Tasyrik tidak sekadar penanggalan ritual keagamaan. Hari tersebut juga merekam kebudayaan masyarakat Arab yang bergantung pada ritme alam, termasuk matahari sebagai sarana pengawetan bahan pangan.

Dalam tradisi Islam, Hari Tasyrik berlangsung selama tiga hari setelah Idul Adha, yakni 11, 12, dan 13 Zulhijah. Berdasarkan penetapan pemerintah, Idul Adha 1447 H jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, sehingga Hari Tasyrik berlangsung pada Kamis, 28 Mei 2026, Jumat, 29 Mei 2026, dan Sabtu, 30 Mei 2026.

Pada hari-hari tersebut, umat Islam masih diperkenankan menyembelih hewan kurban. Momentum itu juga menjadi fase lanjutan distribusi daging kurban kepada masyarakat.

Tradisi pembagian daging kurban pada Hari Tasyrik memperlihatkan dimensi sosial Idul Adha yang kuat. Selain menjadi simbol ketaatan spiritual, kurban juga menjadi instrumen solidaritas sosial yang mempertemukan kelompok mampu dengan masyarakat yang membutuhkan.

NU Online menjelaskan, Hari Tasyrik menjadi waktu umat Islam memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan zikir. Aktivitas ibadah tersebut dipandang sebagai bagian dari syiar yang menghidupkan suasana Idul Adha.

“Pada prinsipnya, Hari Tasyrik memang waktu istimewa untuk ibadah sehingga apa pun amal ibadahnya asal dilakukan pada waktu-waktu yang istimewa maka ganjarannya juga istimewa,” ujar Ustadz Alhafiz Kurniawan dikutip NU Online.

Di sisi lain, Islam juga menetapkan larangan puasa pada Hari Tasyrik. Larangan tersebut bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Muslim.

Dalam hadis itu, Rasulullah Saw menyebut Hari Tasyrik sebagai hari makan, minum, dan mengingat Allah. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa Islam tidak hanya menekankan aspek spiritual, tetapi juga penghormatan terhadap nikmat pangan dan kebersamaan sosial.

“Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan zikir kepada Allah,” bunyi hadis riwayat Imam Muslim dari Nubaisyah Al-Hudzali.

Imam Syafi’i dalam qaul jadid juga menjelaskan larangan puasa pada Hari Tasyrik memiliki kedudukan kuat dalam fikih. Larangan itu disejajarkan dengan larangan puasa pada hari raya karena umat Islam dianjurkan menikmati hidangan kurban dan mempererat kebersamaan.

Di Indonesia, makna Hari Tasyrik berkembang tidak hanya sebagai kelanjutan ritual Idul Adha, tetapi juga menjadi ruang berbagi antarmasyarakat. Tradisi memasak bersama, pembagian daging kurban di kampung-kampung, hingga gema takbir selepas salat wajib menjadi wajah khas Hari Tasyrik yang terus bertahan hingga kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....