Kurban Perkuat Persaudaraan Muslim Lintas Perbedaan
- 29 Mei 2026 13:36 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta — Ibadah kurban tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan semata. Di balik gema takbir dan distribusi daging, tersimpan fungsi sosial yang selama ini jarang dibicarakan yakni, kurban menjadi medium perekat ukhuwah Islamiah, bahkan di tengah masyarakat yang terbelah oleh identitas suku, ekonomi, hingga jarak geografis.
Fenomena itu terlihat kuat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Ketika masyarakat sulit membeli daging dalam kehidupan sehari-hari, momentum Idul Adha berubah menjadi ruang berbagi yang mempertemukan kelompok-kelompok yang sebelumnya berjarak.
Penyuluh Agama Islam pada Kantor Urusan Agama atau KUA Tanah Abang, Jakarta Pusat, Ustaz Muhamad Iqbal Akmaludin, menilai Idul Adha menghadirkan bentuk persaudaraan yang lebih konkret dibanding sekadar seremoni keagamaan. Ia mengatakan masyarakat di wilayah 3T merasakan langsung dampak sosial dari distribusi daging kurban.
“Ketika datang Idul Kurban, mereka bisa menikmati itu semua. Dan tidak hanya perut mereka yang terisi, tapi keimanan mereka pun terisi,” ujar ustaz Iqbal dalam siaran radio Kajian Subuh “Mutiara Pagi” di 91,2 FM Pro1 Radio Republik Indonesia atau RRI Jakarta, Jumat, 29 Mei 2026.
Dalam siaran radio pagi itu, Iqbal bilang pernah menjalani pengabdian di Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia melihat masyarakat menunggu momentum kurban karena daging sapi atau kambing merupakan makanan yang sulit dijangkau dalam keseharian mereka.
Menurut dia, suasana berbagi saat Idul Adha perlahan mengikis identitas kesukuan yang masih kuat di sejumlah daerah. Warga dari berbagai kelompok duduk bersama menikmati makanan yang sama tanpa lagi mempersoalkan latar belakang.
“Ketika sama-sama makan daging dari sapi hewan yang sama, maka itu menjadi sebuah peluang untuk terangkatnya semua perbedaan identitas, baik itu perbedaan suku dan lain-lain,” ucapnya.
| Baca juga: 50 Ucapan Selamat Hari Raya Idul Adha |
Ia mengatakan konflik berbasis identitas kerap sulit diselesaikan melalui pendekatan formal. Namun, relasi sosial justru mencair dalam momentum makan bersama.
“Biasanya baru bisa terselesaikan itu di meja makan,” kata Iqbal.
Fenomena itu, menurut dia, membuat Idul Adha menjadi ruang sosial yang berbeda dibanding Idul Fitri. Jika Idul Fitri identik dengan mudik dan pertemuan keluarga di kampung halaman, Idul Adha justru memperkuat interaksi antarwarga di lingkungan tempat tinggal.
Iqbal mengatakan banyak warga kota tetap berada di perantauan saat Idul Adha. Situasi itu membuat salat Id dan pembagian kurban menjadi momen mempererat hubungan antar tetangga yang sebelumnya renggang.
“Idul Adha ini menjadi momen mushafahah antar tetangga itu sangat penting,” ujar dia.
Ia juga menyoroti tradisi arisan kurban yang berkembang di banyak Dewan Kemakmuran Masjid atau DKM. Menurut dia, arisan tersebut bukan sekadar mekanisme pengumpulan dana, tetapi membangun ikatan sosial yang berkelanjutan.
“Yang biasanya kita kumpul-kumpul pembahasannya hanya bukan sesuatu yang banyak faedahnya, kemudian kita kumpul banyak faedahnya,” kata Iqbal.
Di sisi lain, kepanitiaan kurban juga memperlihatkan bentuk gotong royong yang jarang ditemukan dalam kegiatan sosial lain. Menurut dia, proses penyembelihan hewan kurban membutuhkan koordinasi tinggi dan kerja kolektif.
“Semua punya fungsi masing-masing dan semuanya dilaksanakan dengan penuh canda gurau,” ucapnya.
Iqbal menilai simbol paling menarik dari Idul Adha justru muncul dari penggunaan senjata tajam dalam suasana damai. Pisau dan golok yang lazim diasosiasikan dengan kekerasan berubah menjadi alat kerja bersama untuk kepentingan sosial.
“Senjata yang sebelumnya identik dengan kekerasan, kemudian menjadi sebuah alat pemersatunya,” ujar dia.
Praktik berbagi dalam kurban juga berkembang melampaui batas geografis. Sejumlah organisasi Islam dan lembaga filantropi mulai mengembangkan distribusi daging kurban dalam bentuk kemasan kaleng agar dapat dikirim ke wilayah terpencil hingga negara konflik.
Iqbal menyebut distribusi daging ke Gaza, Afrika, hingga pelosok Indonesia menunjukkan bahwa ukhuwah Islamiah tidak berhenti pada relasi lokal.
“Kita tidak mengenal mereka, mereka tidak mengenal kita, tapi hubungan cintanya sampai,” kata dia.
Sementara itu, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ustaz Prof. Dr. Asep Usman Ismail, mengatakan kurban pada hakikatnya merupakan sarana pendidikan kepribadian muslim. Dalam khutbah Iduladha 1447 Hijriah di kompleks perumahan Villa Dago Tol, Tangerang Selatan, Rabu, 27 Mei 2026, ustaz Asep Usman yang juga dosen program studi kajian terorisme pascasarjana Universitas Indonesia itu menegaskan bahwa inti kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah.
“Kurban, secara bahasa berasal dari kata qaruba, yang artinya mendekatkan diri,” ujar Asep.
Menurut dia, praktik kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan atau distribusi daging. Kurban menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh menjadikan materi, jabatan, dan kekuasaan sebagai sandaran hidup utama.
“Kurban ini tamparan yang membekas kepada dasar La ilaha illallah,” ucapnya.
Asep menjelaskan pendidikan dalam kurban bertumpu pada dua fondasi utama kepribadian muslim, yakni iman kepada Allah dan nilai kemanusiaan. Ia menyebut kemanusiaan dalam Islam tidak bersifat sekuler, melainkan berbasis tauhid.
“Kepribadian muslim berdiri tegak di atas dua penyangga, iman kepada Allah dan insaniyah,” kata dia.
Menurut Asep, relasi spiritual dalam kurban tidak dapat dipisahkan dari dimensi sosial. Kedekatan manusia dengan Tuhan harus tercermin dalam kedekatan antarmanusia.
Karena itu, distribusi daging kurban dan praktik berbagi dalam Iduladha dinilai menjadi pendidikan sosial yang nyata. Bukan hanya mengajarkan pengorbanan, tetapi juga membangun solidaritas di tengah masyarakat yang semakin individualistis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....