Cara Membersihkan Masjid setelah Penyembelihan Hewan Kurban
- 27 Mei 2026 13:46 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta — Penyembelihan hewan kurban di halaman masjid saat Idul Adha bukan hanya soal ibadah dan pembagian daging kepada masyarakat. Di balik aktivitas itu, ada persoalan kebersihan lingkungan yang kerap luput diperhatikan, mulai dari sisa darah, limbah organik, hingga saluran air yang tersumbat.
Masjid yang menjadi pusat kegiatan kurban biasanya dipenuhi aktivitas sejak pagi hingga sore hari. Setelah penyembelihan selesai, area yang sebelumnya dipadati jamaah dan panitia harus segera dikembalikan dalam kondisi bersih agar tetap nyaman digunakan untuk ibadah.
Pelaksanaan kurban di halaman masjid memang diperbolehkan dalam syariat Islam. Dalam artikel di NU Online, Pegiat Kajian Islam Zainuddin Lubis menjelaskan bahwa penyembelihan hewan kurban dapat dilakukan di berbagai tempat, termasuk halaman masjid, selama memenuhi syarat kebersihan dan kelayakan.
“Islam memberikan kebebasan kepada umat Muslim untuk menyembelih hewan kurban di mana pun selama syarat dan ketentuannya dipenuhi,” ujar Zainuddin dalam tulisannya di NU Online yang kami akses pada Rabu, 27 Mei 2026.
Namun di lapangan, persoalan kebersihan sering kali menjadi tantangan tersendiri. Darah hewan yang mengering, sisa potongan daging, hingga limbah isi perut dapat menimbulkan bau menyengat apabila tidak segera dibersihkan.
Karena itu, langkah pertama yang biasanya dilakukan panitia kurban adalah menyiram area penyembelihan menggunakan air bersih bertekanan tinggi. Cara ini dilakukan untuk mencegah darah melekat pada lantai dan meminimalkan munculnya bakteri.
Penggunaan cairan pembersih lantai dan disinfektan juga mulai diterapkan di sejumlah masjid perkotaan. Langkah tersebut dianggap penting karena area penyembelihan bersentuhan langsung dengan banyak orang dan bahan pangan.
Selain membersihkan lantai, panitia juga perlu memisahkan limbah organik dan nonorganik. Sisa jeroan, tulang kecil, serta potongan yang tidak digunakan biasanya ditempatkan di wadah tertutup agar tidak mengundang lalat dan menimbulkan pencemaran lingkungan.
Sementara itu, sampah plastik pembungkus daging, sarung tangan sekali pakai, dan botol minuman dipisahkan untuk memudahkan proses pengangkutan sampah. Pengelolaan limbah yang buruk sering kali menjadi penyebab lingkungan masjid tampak kumuh setelah Idul Adha.
Peralatan penyembelihan juga menjadi perhatian penting. Pisau, talenan, meja pemotongan, hingga wadah daging harus dicuci menggunakan air mengalir dan sabun agar tetap higienis sebelum digunakan kembali.
Dalam penjelasannya, Zainuddin Lubis menegaskan bahwa syariat Islam juga mengajarkan etika dalam pelaksanaan kurban, termasuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. “Kepatuhan terhadap kebersihan dan penanganan limbah menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kurban,” ucapnya.
Persoalan lain yang kerap tersembunyi adalah saluran air di sekitar masjid. Banyak panitia kurban baru menyadari adanya penyumbatan setelah darah dan potongan kecil daging masuk ke selokan.
Kondisi tersebut tidak hanya memunculkan bau tak sedap, tetapi juga berpotensi menyebabkan genangan air apabila hujan turun. Karena itu, petugas kebersihan biasanya melakukan pemeriksaan saluran air setelah seluruh proses pemotongan selesai.
Di sejumlah wilayah, pengurus masjid bahkan mulai menyiapkan lubang khusus untuk pembuangan limbah organik. Cara ini dinilai lebih aman dibanding membuang sisa hewan langsung ke tempat sampah umum.
Di balik proses pembersihan itu, ada semangat gotong royong yang terus terjaga. Remaja masjid, ibu-ibu, hingga warga sekitar biasanya ikut membantu membersihkan lokasi penyembelihan secara bersama-sama.
Suasana tersebut menjadi gambaran bahwa Idul Adha bukan hanya tentang berbagi daging kurban, tetapi juga menjaga kebersihan rumah ibadah dan lingkungan sekitar. Nilai kebersamaan itu menjadi bagian penting dari pelaksanaan ibadah kurban di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....