M. Husen, Pemuda Inspiratif Penggerak Ekowisata dan Pendidikan di Ranah Minang
- 21 Mei 2026 10:16 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Filosofi Minangkabau “Alam Takambang Jadi Guru” menjadi dasar penting dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
- Ilmu yang paling penting dalam hidup ini adalah ilmu ikhlas, karena di kondisi dan situasi apa pun, keikhlasanlah yang akan menjadi lilin dalam jalan sunyi yang dilakukan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Apresiasi Budaya Minangkabau "Minang Bakaba Lamak di danga" di Pro4 RRI Jakarta pada Rabu, 20 Mei 2026, menghadirikan sosok inspiratif Muhammad Husen, anak muda asal Minang yang selama ini cukup konsisten menggerakkan masyarakat melalui ekowisata dan pendidikan.
Dalam perbincangannya melalui sambungan telepon di Pro4 RRI itu, Pria kelahiran Tanah Datar tahun 1992 dari suku Panyalai ini sekarang mengaku tinggal di daerah Pagaruyung.
"Saya sekarang tinggal di Pagaruyung" ujarnya, saat berkenalan dan membuka dialong.
Anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Risman (Alm) dan Desvi Yenti tersebut dikenal aktif membangun gerakan sosial berbasis masyarakat sejak usia muda. Meski hanya menamatkan pendidikan hingga SMA jurusan IPA, perjalanan hidupnya membuktikan bahwa semangat belajar dan pengabdian mampu membuka jalan pengaruh yang luas bagi lingkungan sekitar.
Sejak remaja, Muhammad Husen telah menorehkan berbagai prestasi membanggakan. Ia pernah menjadi Kontingen Jambore Nasional Pramuka tahun 2006 di Jawa Barat serta anggota Paskibraka Kabupaten Tanah Datar. Kiprahnya semakin dikenal ketika meraih Juara 1 Pemuda Pelopor Kategori Pendidikan tingkat Kabupaten Tanah Datar dan Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2019 hingga akhirnya menjadi Pemuda Pelopor Nasional Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia pada tahun yang sama. Tidak hanya di dalam negeri, pada tahun 2022 ia juga dipercaya menjadi pembicara dalam Tong Tong Fair di Den Haag, Belanda, membawa semangat budaya dan pemberdayaan masyarakat Minangkabau ke panggung internasional.

Baca Juga:
Meniti Jejak Seni dan Pendidikan, Dedikasi Seorang Guru Tari Muda Minangkabau
Muhammad Yahdi Bangun Ekowisata Kapalo Banda dari Desa
Muhammad Husen dalam wawancara di acara Apresiasi Budaya Minangkabau, Minang Bakaba Lamak di danga, Rabu, 20 Mei 2026, melalui sambungan telp memaparkan perihal perjalanannya di dunia ekowisata.
"Saya memulai pada tahun 2014 melalui Yayasan Sumatra Volunteer. Sebelum terjun ke bidang tersebut, saya bekerja sebagai editor Majalah Pembaharu di Bali serta menjadi manager assistant dan marketing agency. Pengalaman hidup di Bali membuat saya melihat bagaimana budaya, pelestarian alam, dan pariwisata dapat berjalan beriringan", Ujar Husein.
Sekembalinya ke Sumatera Barat, Husein menilai potensi daerahnya sangat besar, namun perlu diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia agar manfaat pariwisata benar-benar dirasakan masyarakat. Baginya, filosofi Minangkabau “Alam Takambang Jadi Guru” menjadi dasar penting dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.

Selain aktif memberdayakan masyarakat melalui program ekowisata, Yayasan Sumatra Volunteer juga mengadakan pengajaran bahasa Inggris gratis bagi anak-anak desa. Tak berhenti di sana, Muhammad Husen bersama rekan-rekannya membangun usaha sosial kreatif bernama Sumatra Life Eco sejak tahun 2018. Melalui usaha ini, bambu diolah menjadi berbagai produk peralatan makan dan minum ramah lingkungan yang dipasarkan hingga ke Eropa, khususnya Belanda. Menariknya, seluruh produk dibuat oleh anak-anak muda binaan mereka sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurutnya, pengembangan wisata berbasis masyarakat atau Community Based Tourism kini mulai mendapat sambutan positif dari warga karena dinilai mampu menciptakan dampak ekonomi sekaligus menjaga warisan budaya dan alam.
Meski pada awalnya keluarga sempat meragukan aktivitas sosial yang dijalaninya karena dianggap tidak menjanjikan secara materi, dukungan itu perlahan tumbuh setelah melihat hasil dan dampak nyata dari setiap gerakan yang dilakukan. Muhammad Husen juga terus mengingat pesan almarhum ayahnya, “Ilmu yang paling penting dalam hidup ini adalah ilmu ikhlas, karena di kondisi dan situasi apa pun, keikhlasanlah yang akan menjadi lilin dalam jalan sunyi yang dilakukan.” Melalui semangat tersebut, ia berharap masyarakat mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki demi menciptakan dampak ekonomi, sosial, dan pendidikan yang berkelanjutan. Kepada generasi muda Minang dan anak muda Indonesia, ia berpesan, “Tidak ada keberhasilan datang dalam semalam. Keberhasilan adalah buah dari semangat yang tak pernah padam dan belajar yang tak pernah usai.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....