Transformasi Kaliadem: Antara Mitigasi Banjir dan Asa Nelayan Tradisional

  • 19 Mei 2026 14:21 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Kawasan Kaliadem, Muara Angke, Jakarta Utara, terus mengalami transformasi signifikan. Wilayah yang dulunya merupakan rawa-rawa dan hutan mangrove, kini telah berkembang menjadi pemukiman padat penduduk yang lebih tertata berkat pembangunan infrastruktur mitigasi bencana oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Pak Zamroni, salah satu warga yang telah menetap selama lima tahun terakhir di Kaliadem, menceritakan sejarah unik terbentuknya daratan di wilayah tersebut. Menurutnya, pemukiman yang kini berdiri kokoh awalnya adalah rumah panggung di atas air. Daratan terbentuk secara bertahap melalui peran para pengusaha kerang lokal.

"Awalnya di sini rawa dan mangrove. Lalu ada pengusaha kerang yang merebus kerang, cangkangnya dibuang untuk menguruk bawah rumah panggung, lama-lama jadi daratan," kenang Zamroni saat ditemui RRI Jakarta di depan kediamannya. Senin 19 Mei 2026.

Dampak Positif Mitigasi Banjir

Pemerintah daerah baru-baru ini menyelesaikan peninggian jalan yang juga berfungsi sebagai tanggul mitigasi di depan rumah warga. Zamroni mengakui bahwa proyek ini membawa dampak positif bagi mobilitas dan penanganan banjir. Jika sebelumnya banjir bisa mencapai ketinggian sebetis atau mata kaki orang dewasa, kini ancaman tersebut jauh berkurang.

"Alhamdulillah, akses jadi lebih nyaman dan enak. Banjir sudah jarang masuk ke wilayah rumah yang posisinya sudah ditinggikan, kecuali jika terjadi pasang air laut (rob) yang sangat tinggi, itu pun tidak sedalam dulu," ujarnya.

Menariknya, pembangunan jalan ini sempat melalui proses negosiasi dengan warga. Rencana awal jalan selebar 9 meter akhirnya disesuaikan menjadi 6 meter agar tidak menggusur hunian warga yang sudah ada di sepanjang pinggiran kali.

Tantangan bagi Nelayan Tradisional

Meski mengapresiasi pembangunan tanggul, Zamroni yang juga memiliki keterikatan dengan komunitas nelayan tradisional, menyampaikan kegelisahan tersembunyi di balik tembok raksasa (Giant Sea Wall). Bagi para nelayan kecil, keberadaan tanggul yang terlalu tinggi tanpa akses yang memadai bisa menjadi kendala serius bagi mata pencaharian mereka.

"Tanggul memang bagus untuk menjaga kita dari banjir, tapi terkadang sulit bagi nelayan tradisional untuk bersandar atau bongkar muat barang. Kita harus naik-turun tangga atau memutar lebih jauh karena terhalang tanggul," jelas Zamroni.

Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik tanggul, tetapi juga mempertimbangkan aksesibilitas bagi nelayan. Mengingat pola ekonomi nelayan tradisional adalah "hasil hari ini untuk makan hari ini", hambatan kecil pada akses dermaga dapat berdampak besar pada kesejahteraan keluarga mereka.

"Harapan kami, kalau bangun tanggul, tolong disesuaikan juga dengan akses nelayan. Nelayan itu berangkat pagi, pulang sore, hasilnya langsung ditunggu anak istri di rumah. Jangan sampai infrastruktur yang tujuannya melindungi, justru menyulitkan mereka mencari nafkah," pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....