10 Hari Dzulhijjah, Ibadah yang Disebut Lebih Utama dari Jihad

  • 18 Mei 2026 11:29 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah kembali menjadi perhatian umat Islam setelah pemerintah menetapkan 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah jatuh hari ini, Senin, 18 Mei 2026. Fenomena ini bukan hanya penanda mendekatnya Hari Raya Iduladha, tetapi juga masa yang disebut Rasulullah sebagai hari-hari paling dicintai Allah untuk beramal saleh.

Pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama menetapkan awal Dzulhijjah berdasarkan hasil hisab dan rukyatul hilal dari 88 titik pemantauan di Indonesia. Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan Iduladha 1447 H jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 setelah hilal terkonfirmasi terlihat di Kabupaten Labuhan.

Poster program siar Mutiara Pagi menghadirkan ustazah Debibik Nabilatul Fauziah. Dalam siaran itu, Debibik menjelaskan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah dalam program Kajian Islam Pro1 RRI Jakarta, Senin (18/5/2026). (Foto: RRI Jakarta)

Penetapan tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian ibadah sunnah Dzulhijjah yang diyakini memiliki keutamaan besar. Salah satu yang paling banyak diamalkan masyarakat ialah puasa sunnah sejak 1 hingga 9 Dzulhijjah, termasuk puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.

Dalam program Kajian Islam radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta pada Senin, 18 Mei 2026, Ustazah Debibik Nabilatul Fauziah mengatakan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah ditegaskan langsung dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad Saw. Ia menyebut Allah bahkan bersumpah dengan “malam yang sepuluh” dalam Surah Al-Fajr yang oleh banyak ulama dimaknai sebagai 10 hari pertama Dzulhijjah.

“Tidak ada hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah dibandingkan amal pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Bahkan lebih utama dari jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali,” ujar Debibik mengutip hadis riwayat Al-Bukhari dalam dialog yang dipandu penyiar, Farid Kurniawan.

Menurut Debibik, pesan hadis tersebut menunjukkan bahwa seluruh amal ibadah mengalami “kenaikan nilai” pada awal Dzulhijjah. Salat, sedekah, puasa, hingga zikir disebut memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding amalan serupa pada hari-hari biasa.

Ia menjelaskan, salah satu amalan paling dianjurkan ialah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah. “Puasa Arafah menghapus dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang,” ujar Debibik mengutip hadis sahih riwayat Muslim nomor 1162.

Selain puasa, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih. Debibik mencontohkan kebiasaan para sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab dan Abdullah bin Umar yang mengumandangkan takbir di Mina hingga gema zikir terdengar di pasar-pasar.

“Zikir itu ibadah paling mudah karena bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Tidak hanya dengan lisan, tapi juga dengan hati,” ujar Debibik Nabilatul Fauziah, yang merupakan Dewan Pakar DPW WAZIN ~ Wihdah Azhariyah Indonesia atau Organisasi Perempuan Alumni Al-Azhar Mesir Provinsi Jawa Barat.

Tradisi memperbanyak ibadah pada awal Dzulhijjah juga ditegaskan dalam berbagai literatur Islam klasik. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebut keistimewaan 10 hari pertama Dzulhijjah terletak pada berkumpulnya induk-induk ibadah dalam satu waktu, mulai dari salat, puasa, sedekah, haji, hingga kurban.

Data dari NU Online yang kami akses pada Senin, 18 Mei 2026, menyebut puasa sunnah Dzulhijjah dapat dilakukan sejak 1 hingga 9 Dzulhijjah. Umat Islam dianjurkan membaca niat puasa sejak malam hari hingga sebelum fajar, namun masih diperbolehkan berniat sebelum Dzuhur selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.

NU Online juga mengutip hadis riwayat At-Tirmidzi yang menyebut satu hari puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah setara dengan puasa setahun penuh. Sementara satu malam ibadah disebut setara dengan malam Lailatul Qadar.

Di tengah tingginya semangat berkurban menjelang Iduladha, ustazah Debibik yang juga dosen tetap di Universitas Singaperbangsa Karawang itu mengingatkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menghalangi seseorang meraih keutamaan Dzulhijjah. Menurutnya, Islam memberikan banyak pintu amal bagi umat yang belum mampu berkurban.

“Kalau belum mampu berkurban, masih banyak amalan lain. Bisa dengan salat malam, puasa Arafah, sedekah, menyambung silaturahim, membaca Al-Qur’an, atau membantu orang lain,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keikhlasan dalam ibadah kurban. Menurut Debibik, Allah tidak menilai darah atau daging hewan kurban, melainkan ketulusan hati orang yang beribadah.

“Yang Allah inginkan adalah keikhlasan kita. Ikhlas itu level tertinggi dalam ibadah,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....